Kamis, 29 Desember 2011

Sesuatu Ya... (Kamu Bukan Biasa)



Waktu menggelinding dibalut kehadiranmu
Senyum, sapa dan gelak tawamu hangatkan relung hati
Selalu ada kamu, selalu diselimuti bayangmu
Ku telah biasa dan merasa biasa

Pagi ini tidak ada lagi kamu
Tidak tampak senyum, sapa dan gelak tawamu
Paling tidak semua itu bukan lagi untukku
Ku tidak bisa kar’na kamu tidak biasa

Menarik nafas panjang menyadari pijarmu
Sesali ketidakbersyukuran sia-siakan kemilaumu
Berandai-andai masih terbuka pintu ‘tuk jalan beriringan
Kar’na ternyata kamu... “SESUATU YA”

Jumat, 25 November 2011

JALAN MASIH PANJANG

Terjatuh, terluka, tersakiti
Menangis, meratap, menarik nafas panjang

Dari sebuah mata
Dari ribuan perjalanan kegagalan

Kehilangan kesempatan,
Mungkinkah benar-benar hilang?
Bukankah kini mendapatkan pengalaman

Kehilangan daya,
Mungkinkah benar-benar hilang?
Bukankah kini mendapatkan rasa kebal

Benarkah keterpurukan ini adalah akhir perjalanan?
Ataukah ini hanyalah pertengahan episode drama kehidupan

Jangan menyerah kawan...
Kabut bukanlah tempat perhentian
Jalan masih panjang

Kisah ini belum berakhir...

Rabu, 19 Oktober 2011

HOLD ME NOW


Genggaman tangan menyiratkan makna kepedulian
Setelah perjalanan panjang tanpa disahabati kehangatan cinta
Terkenang getaran ketika jari-jarimu erat memegang
Rasaku berpendar, menyebar menjajaki keserasian
Sepi memudar tergantikan gelora keceriaan

Mengalir menggerayangi batin tatapan sendu bola matamu
Semoga bukan sekedar kenangan yang menemani mimpi-mimpi semu
Namun mutiara teruntai permata pelengkap eksistensi
Jadi jangan lepaskan lagi...genggamlah untuk saat ini.
Genggamlah untuk selamanya

Senin, 12 September 2011

SEBERAPA (Setelah Perpisahan)


Seberapa mudah kumelupakanmu?...
Sesukar menanam benih di musim kemarau

Seberapa mudah kumenepikanmu?...
Sebanyak tangisan yang mengalir sepanjang jalan pulang

Seberapa sering kumemikirkanmu?...
Sebanyak harapan yang pernah kita erami bersama

Seberapa sakit perpisahan ini?...
Seperih belati tumpul menyayat hati

Seberapa indah kisah yang kita jalani?...
Sesulit melangkah menjalani kisah yang baru

Jumat, 19 Agustus 2011

RELAKANLAH AKU MELANGKAH


Biarkan kenangan itu tetap ada di sana menemaniku dalam penantian
Usah lagi mengungkitnya karena semua telah berakhir
Tidak ada lagi yang perlu dibanggakan ketika segalanya adalah kenangan
Tiada penting mengingat kesalahan sebab semua sudah berlalu

Bersamamu kurangkum kisah kita dalam sepenggal kata... “Ironis”
Mencintaimu setengah mati untuk kemudian menyadari bahwa rasa ini telah mati
Bertahan denganmu ketika yang tersisa hanya rasa kasihan
Kehilangan indahmu yang pernah merajai singgasana hati

Jalan kita tidak lagi beriring
Jangan lagi memandang ke belakang
Cukup adalah cukup
Perpisahan ini adalah sebuah titik dan bukan koma

Minggu, 08 Mei 2011

MELEPASMU (ANTARA LOGIKA DAN RASA)


Segala keindahan yang telah terukir
Tiada pernah kusangkali
Engkaulah pembangkit senyuman
Penggugah asa yang pernah pudar

Aku terperanjat mengenali getaran jiwa
Rasa yang telah lama pergi dari hidupku
Engkaulah yang menanamnya
Hingga kunikmati lagi indahnya cinta

Tetapi waktu telah mengubah impian jiwa
Segala pertengkaran yang terjadi
Ketidaksepahaman yang semakin jelas
Mengantar kita pada kegalauan

Hingga kaupun berucap dalam lirih:
Sayang apakah hubungan kita indah?
Ya indah... bahkan teramat indah
Namun tiap kali aku mengatakannya akupun menangis... katamu

Akhirnya akupun memilih...
Di antara rasa cinta yang menggelora dan logika
Aku memilih untuk melepasmu
Dalam keputusan itu aku memahami makna “mencintai tidak harus memiliki”

Aku memilih untuk mencintaimu tanpa memilikimu
Aku memilih melepasmu dalam rasa cinta
Aku memilih mendoakan akan hadir dia yang terbaik bagimu
Aku memilih untuk tidak lagi menjadi pilihanmu

Kita saling rasakan kehilangan tak peduli siapa yang mengakhiri
Biarlah hari yang berjalan tetap menjaga cinta di tempatnya
Katamu tentang aku “jika kamu adalah coklat maka kamulah coklat termanis”
Rasakan dengan hatimu dalam jarak yang tidak sanggup lagi kita jangkau.

Senin, 18 April 2011

CHEMISTRY



Chemistry merupakan kata-kata yang belakangan populer lantaran berulang-ulang diucapkan oleh host tampan, santun dan terkesan bijak dalam mengalirkan kata-kata, siapa lagi kalau bukan Choki Sitohang dalam acara Take Me Out Indonesia yang sempat menjadi kegemaran para pemirsa televisi. Secara harafiah ini berarti senyawa kimiawi. Barangkali hal ini dapat digambarkan sebagai getaran yang berbeda saat berdekatan atau kecocokan. Tentu saja atmosfir gejolak perasaan yang positif.

Seorang pakar, praktisi dan penulis kepemimpinan Bill Hybels tatkala memilih staf untuk bekerja baginya menekankan tiga kriteria menurut urutannya yakni: karakter, kompetensi serta chemistry. Ketika menjelaskan mengenai chemistry, Hybels mengutip pakar manajemen Ken Blanchard yang menasehatinya agar jangan memasukkan ke dalam tim, seseorang yang tidak menimbulkan efek positif terhadap dirinya saat ia masuk ke dalam kantor Hybels.

Jika Hybels menempatkan chemistry dalam urutan ketiga tatkala memilih staf, bagaimana halnya dengan memilih pasangan hidup? Apakah chemistry juga menempati urutan yang ketiga atau terakhir dalam memilih pasangan? (tentu saja dengan asumsi seiman dan kita menyetujui ketiga kriteria ini bisa dijadikan acuan dalam proses memilih pasangan).

Logika saya mengatakan bahwa sulit rasanya masuk ke dua faktor lainnya jika dari awal sudah tidak menemukan chemistry. Jelas chemistry saja tidak bisa menjaga hubungan berjalan dengan langgeng. Diperlukan karakter (kedewasaan), kompetensi (kesiapan mental) dan tentu saja komitmen. Pertanyaannya apakah chemistry bisa dibangun ataukah chemistry hanyalah berlaku pada “cinta pada pandangan pertama”? Melihat fakta bahwa banyak juga pernikahan yang di dasari perjodohan pada akhirnya bisa bertahan bahkan bisa dikatakan menemukan kebahagiaan. Maka jelas bahwa chemistry pada akhirnya bisa ditumbuhkan. Senada dengan hal itu adalah pepatah Jawa yang mengatakan “tresno jalaran soko kulino” cinta bertumbuh apabila sering bertemu. Disisi lain, orang yang berangkat dengan chemistry yang begitu kuat kemudian bisa berkata “rasanya kita sudah gak cocok lagi, dah gak dapet lagi chemistrynya”.

Cinta memang bukanlah sekedar menerima tetapi lebih dalam dari itu ketersalingan di dalam memberi. Settingan cinta adalah saling melengkapi. Bisa dikatakan bahwa chemistry adalah modal awal yang sangat penting untuk memulai suatu hubungan percintaan. Namun untuk menjadikannya suatu hubungan yang kuat chemistry haruslah ditingkatkan menjadi komitmen. Komitmenlah yang menjaga cinta disaat-saat sulit. Tidak cukup hanya chemistry namun juga tidak elok tanpa chemistry.

Senin, 04 April 2011

BEKAL MENGARUNGI CINTA


Dikala hati mampu menembus melebihi kesenangan diri
Saat jiwa berderu dalam rasa merindukan senyumanmu
Seketika engkau menyapa ke kedalaman jiwa
Memantik semangat mengarungi hidup dalam kebersamaan

Dalam genggaman erat ‘kan kita lewati bersama
Percikan-percikan impian bahagia yang mengawal asa
Apabila mata mampu melukiskannya dalam keyakinan kalbu
Tidak ada halangan yang terlalu besar untuk ditaklukkan

“Cinta membuka pintu dan menyingkirkan segala rintangan!”(Andrew Drumond)

Rabu, 09 Maret 2011

Malam Ketika Berita Itu Tiba


Malam terasa dingin tatkala kusadari kita tak bersama lagi,
Cinta yang masih membara bukan menyatukan malah memisahkan kita.
Karena cinta menyelipkan rasa di dadamu bahwa kamu bukanlah yang terbaik bagiku.
Kucoba meyakinkanmu bahwa kita saling mengisi.
Kamu berkeras bahwa kamu hanya akan menjadi beban.

Merobek-robek hati penuturanmu bahwa aku layak dapat yang terbaik.
Semuanya kauseberangkan dalam kucuran tetes air mata.
Heran, cintamu yang tidak egois menyeretku makin dalam mencintaimu.
Masih adakah yang lebih baik darimu?
Masih bisakah aku mencintai wanita sejajar dengan yang kudedikasikan padamu?
Mengapa??? Disaat cinta merekah kau memaksanya menjadi layu...???

Dan ketika masa melesat menghujam segala kenangan
Kau tetap tak terlupakan
Hingga sebuah berita memunculkan pengertian...
Kau pergi tinggalkan kefanaan selamanya

Memerangi rasa sakit dalam kesendirian...
Itulah cintamu yang tak mau mendegradasikan rasa sayangku menjadi rasa kasihan
Tinggallah aku dalam sepi
Menyesali ketidakpekaan
Memaki kepahitan yang lahir dari ketidakmengertian

Malam ketika berita itu tiba....
Adalah malam ketika rinduku memuncak
Entahkah akan terpuaskan?
Pastinya tidak akan terlupakan... “dirimu” ya “dirimu”

“Satu jam saja kutelah bisa...
Sayangi kamu di hatiku.
Namun bagiku... lupakanmu
Butuh waktuku seumur hidup... dinantimu..." -ST 12-

Rabu, 02 Februari 2011

SAYAP-SAYAP TERLUKA


Katamu sayapmu terluka,
Masih terasa pedihnya.
Katamu semoga waktu berpihak pada kita

Kataku...
Di saat sayapmu terluka
Aku turut mengurangi kecepatan sayapku
Lalu turun perlahan-lahan menemanimu
Saat itu aku sadar ada luka yang teramat dalam
Aku putuskan untuk mengobatinya
Berhenti untuk waktu yang aku tak tahu sampai berapa lama
Yang pasti hingga lukamu pulih
Lalu kita kan kembali terbang
Jauh tinggi melebihi bukit-bukit terjal...

Kutahan kataku dan kurenungkan adaku...
Akupun tersadarkan...
Maaf aku tak sepenuhnya jujur kepadamu
Sesungguhnya waktu kukurangi kecepatan terbangku
Dan turun perlahan-lahan
Itu bukan semata-mata menanti lukamu pulih
Namun ternyata...
Akupun tak mampu untuk terus terbang
Sayapku pun terluka

Terima kasih karena telah membuka mataku...
Barangkali kita akan tetap memandang dari kejauhan
Sambil berharap waktu kan menyembuhkan

Rabu, 12 Januari 2011

SEPAKBOLA INDONESIA: MUNGKINKAH???




Salah satu hobiku semenjak kanak-kanak adalah bermain sepakbola. Bahkan pernah terlintas sebuah cita-cita tatkala masih kecil untuk menjadi pesepakbola profesional. Bermain sepakbola dilingkungan padat kota Jakarta merupakan perkara yang tidak mudah. Masalah utamanya adalah lahan untuk bermain. Sampai saat ini masih kutemukan anak-anak yang bermain bola plastik di tengah jalan raya tanpa peduli lalu lalang kendaraan di sekitarnya, belum lagi kalau bolanya masuk dalam got (selokan) Jakarta yang hitam pekat dan berbau tajam. Jadi ingat masa kecil (sambil tersenyum).

Pada perhelatan piala dunia setahun lalu di Afrika Selatan, terlintas dalam pikiranku: “kapan ya Indonesia bisa masuk piala dunia?”. Dengan pesimis beberapa orang menurunkan pertanyaan kederajat keyakinan yang lebih rendah yaitu “apa mungkin kesebelasan Indonesia mampu menjejakkan kaki di Piala Dunia?”. Dalam percakapan warung kopi, seorang Bapak menimpali : “Bagaimana mau masuk piala dunia kalau sarapannya aja nasi uduk?” Namanya juga obrolan pinggiran, bikin tertawa dan kemudian berpikir “ada benarnya juga ya, dalam sepakbola modern gizi mendapatkan perhatian besar.” Ada juga yang menimpali “Sulit, karena di laga tandang gawang lawannya gak bisa (maaf) dikencingin!” Ha...ha...ha... Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam berbagai pertandingan sepakbola tarkam ada divisi khusus yang diterjunkan untuk menjampi-jampi dan mematahkan jampi-jampi lawan. Yang agak intelek biasanya mengaitkan dengan ketidakbecusan Nurdin Halid dan kroni-kroninya dalam mengurus PSSI. Nampaknya bukan sekedar rumor kalau dalam liga Indonesia banyak terjadi transaksi untuk mengatur hasil pertandingan. Bahkan sang pengadil di lapangan pun tak luput dari hantu suap.

Belakangan ketika piala AFF 2010 digulirkan di Indonesia dan Vietnam, harapan akan sebuah Tim Nasional yang disegani kembali menggelora. Harapan yang berpadu dengan kecintaan seluruh suporter timnas (pada timnas loh bukan PSSI) yang bahkan rela mengantre berjam-jam bahkan berhari-hari untuk menyaksikan timnas berlaga di tengah ketidakprofesionalan PSSI dalam mengurus ticketing.


Aku sendiri merasakan atmosfir membanggakan itu tatkala menikmati nonton bareng di La piazza Kelapa Gading. Bersama-sama suporter yang lain meneriakkan IN... DO... NE... SIA... Prok...prok...prok... Belum pernah rasanya selama hidup menyaksikan orang-orang berebut membeli kaos ataupun atribut timnas. Bahkan aku sempat mencari kaus Timnas asli di gerai Nike Mall Kelapa Gading dengan jawaban sold out, besok baru ada itupun siang harinya pasti sudah habis lagi. Tentunya kecintaan ini juga dipicu oleh permainan ciamik punggawa-punggawa timnas seperti Okto Maniani, Irfan Bachdim, Gonzales, Firman Utina, M.Ridwan, Arif Suyono dan lain-lain di bawah racikan tangan dingin Alfred Riedl. Harapan itu membesar kepada sebuah keyakinan bahwa sebelum mati aku akan menjadi saksi tampilnya Indonesia di piala dunia. Kansnya menjadi semakin besar lagi jika pengurus PSSI nya dirombak total. Mungkinkah Indonesia tampil di piala dunia? Mungkinlah ya... uwwww...