
Salah satu hobiku semenjak kanak-kanak adalah bermain sepakbola. Bahkan pernah terlintas sebuah cita-cita tatkala masih kecil untuk menjadi pesepakbola profesional. Bermain sepakbola dilingkungan padat kota Jakarta merupakan perkara yang tidak mudah. Masalah utamanya adalah lahan untuk bermain. Sampai saat ini masih kutemukan anak-anak yang bermain bola plastik di tengah jalan raya tanpa peduli lalu lalang kendaraan di sekitarnya, belum lagi kalau bolanya masuk dalam got (selokan) Jakarta yang hitam pekat dan berbau tajam. Jadi ingat masa kecil (sambil tersenyum).
Pada perhelatan piala dunia setahun lalu di Afrika Selatan, terlintas dalam pikiranku: “kapan ya Indonesia bisa masuk piala dunia?”. Dengan pesimis beberapa orang menurunkan pertanyaan kederajat keyakinan yang lebih rendah yaitu “apa mungkin kesebelasan Indonesia mampu menjejakkan kaki di Piala Dunia?”. Dalam percakapan warung kopi, seorang Bapak menimpali : “Bagaimana mau masuk piala dunia kalau sarapannya aja nasi uduk?” Namanya juga obrolan pinggiran, bikin tertawa dan kemudian berpikir “ada benarnya juga ya, dalam sepakbola modern gizi mendapatkan perhatian besar.” Ada juga yang menimpali “Sulit, karena di laga tandang gawang lawannya gak bisa (maaf) dikencingin!” Ha...ha...ha... Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam berbagai pertandingan sepakbola tarkam ada divisi khusus yang diterjunkan untuk menjampi-jampi dan mematahkan jampi-jampi lawan. Yang agak intelek biasanya mengaitkan dengan ketidakbecusan Nurdin Halid dan kroni-kroninya dalam mengurus PSSI. Nampaknya bukan sekedar rumor kalau dalam liga Indonesia banyak terjadi transaksi untuk mengatur hasil pertandingan. Bahkan sang pengadil di lapangan pun tak luput dari hantu suap.
Belakangan ketika piala AFF 2010 digulirkan di Indonesia dan Vietnam, harapan akan sebuah Tim Nasional yang disegani kembali menggelora. Harapan yang berpadu dengan kecintaan seluruh suporter timnas (pada timnas loh bukan PSSI) yang bahkan rela mengantre berjam-jam bahkan berhari-hari untuk menyaksikan timnas berlaga di tengah ketidakprofesionalan PSSI dalam mengurus ticketing.
Aku sendiri merasakan atmosfir membanggakan itu tatkala menikmati nonton bareng di La piazza Kelapa Gading. Bersama-sama suporter yang lain meneriakkan IN... DO... NE... SIA... Prok...prok...prok... Belum pernah rasanya selama hidup menyaksikan orang-orang berebut membeli kaos ataupun atribut timnas. Bahkan aku sempat mencari kaus Timnas asli di gerai Nike Mall Kelapa Gading dengan jawaban sold out, besok baru ada itupun siang harinya pasti sudah habis lagi. Tentunya kecintaan ini juga dipicu oleh permainan ciamik punggawa-punggawa timnas seperti Okto Maniani, Irfan Bachdim, Gonzales, Firman Utina, M.Ridwan, Arif Suyono dan lain-lain di bawah racikan tangan dingin Alfred Riedl. Harapan itu membesar kepada sebuah keyakinan bahwa sebelum mati aku akan menjadi saksi tampilnya Indonesia di piala dunia. Kansnya menjadi semakin besar lagi jika pengurus PSSI nya dirombak total. Mungkinkah Indonesia tampil di piala dunia? Mungkinlah ya... uwwww...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar