Senin, 18 April 2011

CHEMISTRY



Chemistry merupakan kata-kata yang belakangan populer lantaran berulang-ulang diucapkan oleh host tampan, santun dan terkesan bijak dalam mengalirkan kata-kata, siapa lagi kalau bukan Choki Sitohang dalam acara Take Me Out Indonesia yang sempat menjadi kegemaran para pemirsa televisi. Secara harafiah ini berarti senyawa kimiawi. Barangkali hal ini dapat digambarkan sebagai getaran yang berbeda saat berdekatan atau kecocokan. Tentu saja atmosfir gejolak perasaan yang positif.

Seorang pakar, praktisi dan penulis kepemimpinan Bill Hybels tatkala memilih staf untuk bekerja baginya menekankan tiga kriteria menurut urutannya yakni: karakter, kompetensi serta chemistry. Ketika menjelaskan mengenai chemistry, Hybels mengutip pakar manajemen Ken Blanchard yang menasehatinya agar jangan memasukkan ke dalam tim, seseorang yang tidak menimbulkan efek positif terhadap dirinya saat ia masuk ke dalam kantor Hybels.

Jika Hybels menempatkan chemistry dalam urutan ketiga tatkala memilih staf, bagaimana halnya dengan memilih pasangan hidup? Apakah chemistry juga menempati urutan yang ketiga atau terakhir dalam memilih pasangan? (tentu saja dengan asumsi seiman dan kita menyetujui ketiga kriteria ini bisa dijadikan acuan dalam proses memilih pasangan).

Logika saya mengatakan bahwa sulit rasanya masuk ke dua faktor lainnya jika dari awal sudah tidak menemukan chemistry. Jelas chemistry saja tidak bisa menjaga hubungan berjalan dengan langgeng. Diperlukan karakter (kedewasaan), kompetensi (kesiapan mental) dan tentu saja komitmen. Pertanyaannya apakah chemistry bisa dibangun ataukah chemistry hanyalah berlaku pada “cinta pada pandangan pertama”? Melihat fakta bahwa banyak juga pernikahan yang di dasari perjodohan pada akhirnya bisa bertahan bahkan bisa dikatakan menemukan kebahagiaan. Maka jelas bahwa chemistry pada akhirnya bisa ditumbuhkan. Senada dengan hal itu adalah pepatah Jawa yang mengatakan “tresno jalaran soko kulino” cinta bertumbuh apabila sering bertemu. Disisi lain, orang yang berangkat dengan chemistry yang begitu kuat kemudian bisa berkata “rasanya kita sudah gak cocok lagi, dah gak dapet lagi chemistrynya”.

Cinta memang bukanlah sekedar menerima tetapi lebih dalam dari itu ketersalingan di dalam memberi. Settingan cinta adalah saling melengkapi. Bisa dikatakan bahwa chemistry adalah modal awal yang sangat penting untuk memulai suatu hubungan percintaan. Namun untuk menjadikannya suatu hubungan yang kuat chemistry haruslah ditingkatkan menjadi komitmen. Komitmenlah yang menjaga cinta disaat-saat sulit. Tidak cukup hanya chemistry namun juga tidak elok tanpa chemistry.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar