
Malam terasa dingin tatkala kusadari kita tak bersama lagi,
Cinta yang masih membara bukan menyatukan malah memisahkan kita.
Karena cinta menyelipkan rasa di dadamu bahwa kamu bukanlah yang terbaik bagiku.
Kucoba meyakinkanmu bahwa kita saling mengisi.
Kamu berkeras bahwa kamu hanya akan menjadi beban.
Merobek-robek hati penuturanmu bahwa aku layak dapat yang terbaik.
Semuanya kauseberangkan dalam kucuran tetes air mata.
Heran, cintamu yang tidak egois menyeretku makin dalam mencintaimu.
Masih adakah yang lebih baik darimu?
Masih bisakah aku mencintai wanita sejajar dengan yang kudedikasikan padamu?
Mengapa??? Disaat cinta merekah kau memaksanya menjadi layu...???
Dan ketika masa melesat menghujam segala kenangan
Kau tetap tak terlupakan
Hingga sebuah berita memunculkan pengertian...
Kau pergi tinggalkan kefanaan selamanya
Memerangi rasa sakit dalam kesendirian...
Itulah cintamu yang tak mau mendegradasikan rasa sayangku menjadi rasa kasihan
Tinggallah aku dalam sepi
Menyesali ketidakpekaan
Memaki kepahitan yang lahir dari ketidakmengertian
Malam ketika berita itu tiba....
Adalah malam ketika rinduku memuncak
Entahkah akan terpuaskan?
Pastinya tidak akan terlupakan... “dirimu” ya “dirimu”
“Satu jam saja kutelah bisa...
Sayangi kamu di hatiku.
Namun bagiku... lupakanmu
Butuh waktuku seumur hidup... dinantimu..." -ST 12-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar