Rabu, 22 Desember 2010

LOVE YOU MOM !!!



Terkadang aku berpikir engkau tidak adil,
Sikapmu jauh dari menunjukkan “engkau mencintaiku”

Engkau hanya bekerja, bekerja dan bekerja tanpa keinginan untuk menyatakan cintamu ( dalam pandanganku ).

Engkau telalu tertutup dan sepertinya menutup diri terhadap permasalahan hidupku
Tapi diatas semua itu aku bimbang, mengapa diantara segala kekuranganmu itu
Dalam setiap tekanan yang menimpa jalanku aku merasa nyaman dan aman ada didekatmu.

Kini kau telah pergi menyusul Bapak dalam bebanmu untuk tetap bertahan mendidik dan menghidupi kami anak-anakmu.

Aku ingat perjuanganmu keras, berat, sukar tertanggung dipundakmu.
Tanpa keinginan untuk membaginya dengan kami.

Aku ingat cerita kakak, saat bebanmu kau komunikasikan dengan Sang Khalik
Dalam tangisan yang kau jaga kelembutan senandungnya agar tak mengusik nyenyak tidur kami.

Itulah caramu mencintaiku dengan teriakan, sapu, tulang yang terbanting, air mata yang tertumpah, doa. Primitif dan tak kumengerti.
Aku ingat saat aku memotong perkataanmu, mencela sikap dan pandanganmu
Melakukan hal-hal yang aku tahu tidak kan mendapat perkenananmu.

Kini malaikat- Nya telah menjemputmu, setelah pergumulan kita melawan sakit jasmanimu,
Engkau telah sembuh, total. Lepas dari derita otomatis barang dagangan dunia.
Satu hal yang mengusikku dan memancing air mataku ; “Aku belum berbuat sesuatu bagimu!”

Bagaimanapun caramu menyebarkan rasa cintamu.
Kau adalah anugerah Tuhan yang tak terlukiskan oleh kata-kata
Kau adalah seorang mama yang terbaik bagiku

Selasa, 23 November 2010

TERDIAM


Mengenang malam pertemuan kita...
Saat kau bertanya...
Di antara seribu jawab... kau memilih pernyataanku.
Aku berbalik menanya...
Jawabanmu adalah waktu
Di antara waktu yang deras bergulir kuselami lukamu
Kala itu kudapati kau tersenyum...
Kau bersenandung...
Kau berpuisi...
Kau mengulurkan tangan sambil berucap “mohon temani aku”

Kuresponi ajakanmu
Saat kau bimbang aku menyemangatimu
Bait-bait doaku menyapu arah melangkahmu
Kicaumu pada dunia betapa bangganya kamu disahabati kehadiranku

Dalam deru waktu
Kuulurkan tangan dan kau menampiknya
Aku mempertanyakanmu...
Namun nurani menahannya
Barangkali sudah menjadi garis tanganku jika kiprahku sebatas inginmu...
Jika memang kita takkan bertemu lagi...
Kenanglah aku sebagai tangan yang pernah menggengammu dalam laramu

Jumat, 27 Agustus 2010

MELANGKAH DALAM CINTA


Adakalanya kabut memenuhi jalanku,
Namun di sanalah kadar imanku terurai.
Kan kugenggam dalam derap langkahku,
Hingga dalam sengsara kuselami maksud manis-Mu

Seringkali Kau tak terpahami,
Namun kutahu cinta-Mu sejati.
cinta-Mu cukup bagiku...
cinta-Mu senantiasa memaksudkan yang terbaik bagiku

Tangan-Mu yang terus mengukir...
Karya indah lahir dari respon yang sesuai.
Ajarku muliakan-Mu dalam pujian pada malam kelam.
Hingga Kau dapati cintaku bukanlah buah kemudahan

Senin, 09 Agustus 2010

Sang Mahasuci


Menatap hidupku dan keberadaanku,
Tersungkur aku di bait-Mu.
Berada dalam hadirat-Mu terasa ketidaklayakanku.
Sungguh Engkau Kudus, Maha Kudus tak bercela.

Tuhan yang Maha rahim,
Bapa…
Terimalah sesalku,
Pedih karena dosaku,
Sesak akibat nistaku,
Hancur karena kotorku.
Berat bibir ini memanggil-Mu,
Menyapa-Mu dengan hangat mengapa tak lagi dapat kulakukan.

Tak layak diri ini…
Kau putih, bersih, terang, cemerlang.
Aku hitam, kotor, gelap, kusam.

Dalam pelukan-Mu kusadari kekelamanku.
Sentuhan-mu sontak alirkan derai air di mataku.
Betapa suci, suci, Maha Suci ya engkau Allah Penjagaku.

Sabtu, 12 Juni 2010

Barangkali Dia Lelah



(Tribute to Sri Mulyani Indrawati)
Oleh : Welko Henro Marpaung

Tegar berdiri di antara hantaman ombak
Tetap tersenyum di dalam pusaran gejolak
Entahlah apa yang menjadikannya tetap semarak
Ya, dia tetap tegak dan bergerak

Dalam makian dia tetap bersinar,
Jalannya terjaga tidak tercemar.
Pikirannya jauh dari dinar.
Apalagi sekedar ingin tenar.

Dibenci kumpulan pemaruk
Di hujat dan diusahakan agar tampak bagai si buruk
Dialah harum di antara bau busuk
Dia tak mundur walau kerap tertusuk

Nampaknya ia mulai lelah...
Terus menerus diusahakan jadi pihak yang kalah
Namun mereka tidak menemukan celah
Semangat juangnyapun tak pernah terbelah

Terus melangkah hai Wanita pemantik bangga
Terus naik menapaki tangga
Kobarkan dalam sanubari rasa bangga
Bawa panji merah putih tinggi sampai tak terhingga




Sri Mulyani Indrawati (lahir di Bandar Lampung, Lampung, 26 Agustus 1962; umur 47 tahun) adalah wanita sekaligus orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia. Jabatan ini akan diembannya mulai 1 Juni 2010. Sebelumnya, dia menjabat Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu. Begitu, dia berkantor di Kantor Bank Dunia, dia praktis meninggalkan jabatannya sebagai menteri keuangan. Sebelum menjabat menteri keuangan, dia menjabat Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dari Kabinet Indonesia Bersatu. Sri Mulyani sebelumnya dikenal sebagai seorang pengamat ekonomi di Indonesia. Ia menjabat Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI) sejak Juni 1998. Pada 5 Desember 2005, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan perombakan kabinet, Sri Mulyani dipindahkan menjadi Menteri Keuangan menggantikan Jusuf Anwar. Sejak tahun 2008, ia menjabat Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, setelah Menko Perekonomian Dr. Boediono dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Ia dinobatkan sebagai Menteri Keuangan terbaik Asia untuk tahun 2006 oleh Emerging Markets pada 18 September 2006 di sela Sidang Tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura. Ia juga terpilih sebagai wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia versi majalah Forbes tahun 2008 dan wanita paling berpengaruh ke-2 di Indonesia versi majalah Globe Asia bulan Oktober 2007




Note : Biografi Sri Mulyani Indrawati dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Sri_Mulyani_Indrawati pada tanggal 12 Juni 00.21 WIB

Jumat, 04 Juni 2010

On Your B'day



Hidup adalah sebuah proses.
Pencarian diri yang tidak kunjung bertepi.
Selama nafas masih menemani.

Hidup adalah perlawanan terhadap gelombang yang menerpa.
Tidak ada pelaut ulung tanpa terjangan ombak dan badai.
Tak pernah kita mahir menjalani semua ini.
Namun paling tidak kita kan semakin bijak menyikapinya.
Waktu kan menjadi taruhannya (kita ‘kan bertaruh dalam putaran waktu).
Apakah kita maju atau tak bergerak sedikitpun?

Maknailah arti menjadi dewasa.
Hidupilah kedewasaan melalui hati yang mau terus belajar.
Sehingga tidak lagi hanya sekedar ucapan…
“S’lamat menjadi semakin tua” yang terdengar hari ini.
Namun setelahnya kan tersalurkan ungkapan…
“Selamat kar’na kamu telah menjadi semakin dewasa!”

Happy birthday...
Selamat ulang tahun ya!!!

Kamis, 15 April 2010

CINTA ADALAH MILIK PARA PEMBERANI

Sebuah pepatah bijak menyatakan bahwa “tidak ada seorangpun yang sempurna sampai Anda jatuh cinta padanya.” Cinta merupakan rasa yang mampu membangkitkan rancangan-rancangan masa depan yang tampak begitu cerah tatkala memandangnya bersama pribadi yang kepadanya kita jatuh cinta. Namun cinta tidak selamanya bermuara kepada manisnya singgasana pengantin, malahan seringkali berakhir dengan tragis. Ketidakcocokan, kehilangan rasa bahkan orang ketiga kerapkali menjadi faktor yang menjadikan cinta pupus. Kemudian cintapun menghadirkan trauma.


Saat-saat bertemu yang dahulu begitu indah untuk dikenang kemudian berubah menjadi sebuah mimpi buruk. Belum lagi torehan-torehan kenangan-kenangan yang mengiringi perjalanan cinta. Tempat-tempat bersejarahpun menggoreskan luka yang perih ketika melewati ataupun berada di sana. Parahnya mimpi buruk ini terasa tidak akan pernah bertepi. Entah sampai kapan?


Pribadi-pribadi yang terluka belum siap untuk kembali memasuki sebuah hubungan percintaan. Beberapa nekat melangkah pada saat masih terluka kemudian berakhir dengan melukai orang lain ketika ia sadar bahwa ia belum benar-benar siap beranjak. Beberapa lagi tidak tahu apakah ia sudah sembuh dari lukanya atau belum yang pasti ia tidak berani melangkah. Memang benar adanya bahwa ketika kita membuka hati untuk seseorang itu berarti kita menyiapkan diri untuk terluka. Namun bukankah tidak ada raihan tanpa rasa sakit?

Masalahnya barangkali adalah pikiran kita telah dicekoki dengan mantra “i’m everything i am because you loved me” dan “is the end of the world cause you don’t love me anymore”. Nyatanya kita pribadi yang tetap sama harkat dan martabatnya walaupun “dia” meninggalkan kita. Sesungguhnya duniapun jauh dari kiamat.

Cinta memang milik para pemberani. Mencintai memerlukan keberanian, membuka hati untuk dicintai memerlukan keberanian bahkan menyatakan cinta pun membutuhkan keberanian. Berapa banyak jiwa yang takut mencintai karena mereka mengalami penolakan? Berapa banyak yang gemetar mendengar kata cinta karena mereka pernah mengalami perihnya penghianatan cinta? Berapa banyak jiwa yang berikrar aku takkan pernah mencintai lagi? Berapa banyak penghuni rumah sakit jiwa bahkan pelaku bunuh diri yang tertekan dan tidak sanggup menahan luka karena cinta.

Cinta memang milik para pemberani. Orang-orang dengan mata rajawali yang menantang silaunya sinar mentari. Jiwa-jiwa yang memutuskan untuk terus mencari figur terkasih yang mengasihi dalam segala kekurangan dan kelebihan. Tangan-tangan yang terbuka, siap menggenggam dan melangkah dengan keyakinan di balik kabut kegagalan cinta di sana ada belahan jiwa dan biduk yang telah menunggu untuk segera berlayar dalam deru angin dan ombak yang menggulung.

Tidak peduli jika Anda pernah dikhianati, tertolak, diputus kekasih, gagal menikah atau apapun pahitnya cinta. Pertanyaan sesungguhnya adalah “Apakah Anda adalah Sang Pemberani???” Jika demikian cinta adalah milikmu!!!

Jumat, 09 April 2010

BERDAMAI DENGAN MASA LALU









Terima kasih untuk para penikmat blog "BEAUTIFUL RAINBOW" di http://welkomarpaung.blogspot.com/Ini merupakan tulisan pertama saya yang dipublikasikan secara luas. Tulisan ini ada di dalam majalah INSPIRASI INDONESIA No.7/Th.1 MARET 2010. Majalah ini dapat Anda peroleh di toko buku terdekat di kota Anda. "Berdamai dengan Masa Lalu."Kiranya menjadi berkat!!!
Location: Majalah Inspirasi


Masa lalu yang kelam telah menjadi momok menakutkan bagi banyak orang. Keluarga yang broken home, pelecehan seksual di masa kanak-kanak, pola pengasuhan yang salah, kesulitan ekonomi yang akut, ditinggal kekasih, narkoba dan sebagainya. Keadaan ini menjadi bayangan kelam yang mengejar sepanjang perjalanan kehidupan. Tentu saja situasi ini menjadi beban yang menghambat untuk mencapai kepenuhan potensi dalam diri. Lingkaran setan masa lalu bagaimanapun beratnya haruslah diputuskan. Pemutusan ini bukan berarti melupakan masa lalu secara total namun berdamai dengan masa lalu. Berdamai dengan masa lalu artinya merekonstruksi ulang makna masa lalu dalam kehidupan kita. Kalau dahulu masa lalu dimaknai dengan ingatan yang membangkitkan kekesalan dan putus asa di dalam hati kini masa lalu dimaknai sebagai sebuah keadaan yang mengarahkan kita pada rencana ilahi. Bukankan Ia sanggup menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya?


Membuka diri untuk sebuah Proses

Kesadaran bahwa ada sesuatu yang salah dengan kehidupan berkaitan dengan cara menyikapi masa lalu merupakan sebuah modal untuk melangkah ke jenjang berikutnya dari tangga menuju pemulihan. Trauma seseorang akan masa lalu kerapkali membuat mereka mempertanyakan apakah mampu untuk mengatasi kenangan yang menyakitkan tersebut. Sesungguhnya pertanyaan yang tepat untuk diajukan adalah apakah mau untuk menggumulkan secara sungguh-sungguh proses pemulihan dari cengkraman masa lalu. Untuk itu pernyataan di mana ada kemauan disitu ada jalan relevan dengan keadaan untuk maju melampaui kekangan masa lalu.

1. Titik balik


Titik balik yang saya maksudkan dalam hal ini adalah keadaan yang memberikan energi bagi seseorang untuk berdiri dan secara tegas dan berkata ini merupakan hal yang salah dan tidak patut untuk diteruskan. Titik balik ini situasi yang menyadarkan seseorang bahwa ia bukanlah korban dari keadaan namun keadaan menjadikan ia korban tatkala ia mengizinkan hal tersebut.
Kerapkali orang yang terbelenggu dengan masa lalu digoda untuk mengatakan bahwa dirinya tidak beruntung ataupun dirinya adalah orang yang paling sial didunia. Menjadi bulan bulanan dari masa lalu. Oleh sebab itu penting sekali bagi mereka untuk menemukan momentum titik balik.

Bill Wilson adalah gambaran seorang yang memiliki masa lalu yang kelam. Hidup dalam kemiskinan, perceraian orang tua, ibu yang alkoholik, ayah yang sakit-sakitan, bullying oleh teman-teman seusianya. Ia bahkan mengaku bahwa sebagai seorang anak ia tidak pernah merasa dicintai oleh kedua orang tuanya. Keadaan ini menjadikan Bill seorang anak yang tidak percaya diri dan selalu menyendiri. Klimaknya adalah pada usia empat belas tahun ia ditinggal oleh ibunya di sebuah trotoar beton. Celakanya ibunya tidak pernah kembali menjemputnya. Dalam keadaan yang begitu menyedihkan seorang diaken dari sebuah gereja lokal menghampirinya setelah selama tiga hari melihatnya luntang lantung di trotoar tersebut. Diaken yang bernama Dave Rudenis itu memberinya makan dan menawarinya untuk mengikuti retreat kaum muda. Bill mengaku bahwa dalam salah satu kebaktian ia mengalami titik balik dalam kehidupannya. Remaja kurus kerempeng dengan gigi menonjol keluar dan rahang yang tampak cacat dan celana selalu berlubang itu untuk pertama kalinya mendengar ada Tuhan yang mau mati bagi dia, pribadi yang mengasihinya. Setelah momen itu Bill menyatakan bahwa masa depannya tidak akan pernah sama lagi sejak malam itu. Dewasa ini Bill dikenal sebagai pendiri Metro Ministries International di Brooklyn New York sebuah organisasi pelayanan yang menjangkau lebih dari 22.000 anak setiap minggu. Bill Wilson menemukan titik balik dalam hidupnya.

Jalan hidup setiap orang tidaklah sama. Pastilah titik balik kita tidak sama dengan Bill Wilson, tetapi intinya temukanlah titik balik dalam hidup Anda. Mungkin saja titik balik itu kisah hidup seseorang yang menginspirasi, sebuah buku yang Anda baca, nasehat yang diberikan orang lain ataupun pengalaman yang memberikan persepsi yang berbeda dalam memandang keadaan masa lalu.

2. Tekad

Perjalanan berdamai dengan masa lalu pastilah dipenuhi dengan rintangan, halangan dan onak duri. Mungkin saja itu adalah sebuah intimidasi dalam diri yang menyuarakan kamu tidak akan sanggup. Sehingga dorongan untuk tidak memperjuangkan pemulihan menghujam dengan keras. Disinilah diperlukan tekad. Tekad adalah kemauan yang pasti, kebulatan hati. Niat diawal dikombinasikan dengan tekad akan menghasilkan kekuatan yang luar biasa untuk melangkah terus di tengah hujan intimidasi.

Perdamaian dengan masa lalu memerlukan ruang kegagalan. Sebagai manusia barangkali kita ingin mundur, ingin pasrah sambil bernyanyi sendu “takdir memang kejam”, menerima keadaan secara negatif. Kita harus menyadari bahwa di tengah perjalanan menuju perubahan yang lebih baik rintangan dan halangan merupakan hal yang niscaya akan terjadi. Kalaupun kita jatuh tersungkur oleh rintangan dan halangan dan kemudian berniat untuk berhenti bahkan lebih parah lagi mundur, tekad memungkinkan kita untuk terus bangkit dan kembali pada track pemulihan.

3. Mengubah Perspektif

Manusia hanya dapat melihat secara pasti masa lalu dan masa kini. Masa depan adalah proyeksi dari apa yang kita putuskan pada hari ini. Banyak orang yang dibelenggu oleh masa lalu karena mereka memproyeksikan masa depan berdasarkan masa lalu sehingga membuat keputusan yang salah pada masa kini yakni membiarkan belenggu masa lalu menjadi lingkaran setan yang tidak pernah putus.

Perspektif adalah sudut pandang. Berdamai dengan masa lalu artinya bersedia untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda terkait dengan sebuah peristiwa ataupun rentetan peristiwa yang tidak menyenangkan dalam kehidupan. Saya mengenal seorang teman yang memiliki masa lalu yang tidak “bersahabat” sehubungan dengan narkoba. Hari ini dia merupakan pemimpin dari sebuah panti rehabilitasi korban narkoba yang melalui pelayanannya banyak pemakai berhenti mengkonsumsi barang haram tersebut. Dahulu ia mengutuki kemalangannya tapi perspektif yang benar membawa ia menjadi seorang yang sangat efektif dalam mengangkat orang keluar dari lubang narkotika. Banyak sekali kisah orang yang kemudian menjadi “penolong” bagi orang lain dalam kesukaran tatkala ia mampu menaklukkan masa lalunya yang sukar.

Mulai hari ini melangkahlah dengan kemauan yang besar, kebulatan tekad pandanglah secara benar bahwa bagaikan kerang kesakitan akibat kemasukan benda asing dalam tubuhnya maka masa lalu yang menyakitkanpun potensial memproduksi mutiara-mutiara kehidupan yang indah tiada taranya. Dennis Waitley seorang pembicara, motivator dan penulis terkenal berkata “ada dua pilihan utama dalam kehidupan: menerima keadaan sebagaimana adanya atau menerima tanggung jawab untuk mengubahnya.” Berdamailah dengan masa lalu dan maknailah masa lalu dengan benar!!!

Selasa, 30 Maret 2010

Dialog Imajiner dengan Bapak: Seorang yang tak Pernah Kukenal



Orang bilang wajahku mirip dengan bapakku. Bahkan juga perawakanku. Aku tak pernah mengenal dia karena sewaktu aku masih berusia 4 tahun Tuhan memanggilnya ke haribaan-Nya. Pastilah ada yang hilang dari seorang anak yang bertumbuh tanpa seorang bapak. Aku tumbuh tanpa figur Bapak. It’s not an easy way to grow... but i must. Biasanya sebagai insan alamiah muncul imajinasi seandainya...
Seandainya beliau masih ada saat ini apakah yang akan berbeda dari hidup?
Malam ini aku termenung dan membayangkan percakapan yang mungkin terjadi antara aku dan bapak adalah bagaikan komunikasi dua arah dalam lagu “Father and Son”

Father : It's not time to make a change
Just relax, take it easy
You're still young, that's your fault
There's so much you have to know

Find a girl, settle down
If you want you can marry
Look at me, I am old, but I'm happy
I was once like you are now
and I know that it's not easy
To be calm when you've found something going on
But take your time, think a lot
Think of everything you've got
For you will still be here tomorrow
but your dreams may not

Son : How can I try to explain,
when I do he turns away again
It's always been the same, same old story
From the moment I could talk I was ordered to listen
Now there's a way and I know that I have to go away
I know I have to go
Father : I was once like you are now
and I know that it's not easy
To be calm when you've found something going on
But take your time, think a lot
Think of everything you've got
For you will still be here tomorrow,
but your dreams may not
Son : All the times that I cried
keeping all the things I knew inside
It's hard, but it's harder to ignore it
If they were right, I'd agree
but it's them THEY know not me
Now there's a way
and I know that I have to go away
I know I have to go
(father-- stay stay stay, why must you go andMake this decision alone? )





Mmmhhh... dialog yang begitu hidup.
Dimana dari sudut pandang sang Bapak... ”hidup adalah suatu proses nak, akupun pernah mengalami muda sepertimu!”
Si anak menyeru ”dengarkan aku dong Pak”

Menyenangkan pasti memiliki figur yang kita share dengannya...
Seseorang yang darinya lahirlah kita.
Seorang Bapak...

Pastilah segala sesuatu ada hikmah yang bisa dipetik.
Tentunya dengan iman bahwa Tuhan kan jadikan indah peristiwa pilu dalam sejarah kehidupanku sebagai sesuatu yang indah pada ujungnya.
Sebagaimana orang bijak pernah berkata ”everything is ok in the end. If it’s not ok, then it’s not the end.”

Bagaimanapun kehidupan harus dijalani…
Bertumbuh tanpa sosok bapak bukan berarti tidak bisa menjadi bapak yang baik.
Yang menakjubkan justru adalah gelora bahwa apa yang tidak pernah kunikmati dulu aku mempunyai kesempatan agar anak-anakku kelak dapat menikmatinya.

Senin, 29 Maret 2010

Pencarian Menemukan Orang yang Tepat: Satu namun Berjuta




Pengalaman menemukan cinta sejati tidaklah normatif. Setiap orang memiliki keunikan kisahnya sendiri karenanya meskipun diterpa kegagalan kebanyakan orang ketika gagal dalam percintaan tetap menggelorakan “Aku ingin jatuh cinta lagi”. Karena memang…

Mencintai itu menginspirasi
Mencintai itu milik orang-orang yang berani
Mencintai itu tidak netral (rasa)
Mencintai itu menyakitkan (bayangkan saja kalau kita menyarankan hal yang baik tapi diabaikan oleh orang yang kita cintai pasti sakit)
Sebab natur mencintai ingin memiliki (dalam konteks eros)
Ingin memiliki sering berarti ingin menguasai
Mencintai itu ajaib
“Aku ingin jatuh cinta lagi”
“sepertinya maknanya adalah aku ingin bertemu dengan orang yang tepat untuk dicintai”
“Aku ingin mencintai orang yang tepat”
Orang yang tepat itu misteri
Orang yang tepat itu mengindikasikan bahwa cinta adalah sebuah pencarian
Kadangkala orang yang tepat disignalkan oleh chemistry namun chemistry tidak selalu terjadi pada setiap orang.
Orang yang tepat ditelusuri menggunakan radar “rasa” dan radar “kualifikasi”(kualifikasi maksudnya sudah ada persyaratan mutlak tidak dapat diganggu gugat misalnya seiman, sama-sama hamba Tuhan, tidak merokok, satu suku dll).
Kadangkala orang yang tepat dibentuk oleh intensitas (tresno jalaran soko kulino).
Orang yang tepat mungkin saat ini ada di sekitarmu meski belum kau sadari(cinta itu paradoks, Iwan Fals pun bersenandung “kucari engkau lari kudiam kau hampiri).

Lebih jauh kadang kita menyadari betapa kita mencintai seseorang adalah pada waktu kita berpisah dan ditinggalkan.
Pada waktu bersama justru ia kelihatan tidak terlalu bernilai.
Bukankan seringkali sesuatu itu terasa nilainya ketika kita kehilangan hal tersebut.

Orang yang tepat mungkin muncul setelah engkau “selesai” dengan masa lalumu
Memori dan harapan masa lalu bisa jadi penghalang untuk melihat orang yang tepat sebagai orang yang tepat.
Bisa jadi orang yang tepat itu adalah dirimu dengan segenap ikhtiar untuk lebih mengerti.
Bukan lagi melagukan “are you strong enough to be my man”
Namun “am i strong enough to accept you to be my man”
(Zaman dulu tidak sedikit pasangan yang dijodohkan orang tua bisa merasa pasangannya itu orang yang tepat lo)
Sekuat tenaga untuk turun dari idealisme
disamping melagukan Munajat Cinta The Rock:
Tuhan kirimkanlah aku
Kekasih yang baik hati
Yang mencintai aku
Apa adanya

Lagukanlah juga…

Tuhan jadikanlah aku
Kekasih yang baik hati
yang sanggup mencintaimu
apa adanya
(The Soft- Menatap Cinta)

sebab orang yang tepat itu…

Kau berjuta namun satu
Mentari yang menapaki bumi
Menyeruak menghantam gelap
Mencengkram jiwa menyambung asa...
Jadikan dunia begitu bermakna
Alasan untuk tersenyum
Kau berjuta namun satu
Akhirnya... aku menemukanmu...

Selasa, 23 Maret 2010

BERSERAH MENGGENGGAM PERCAYA


Keterbatasan itu milikku
Ketidakterbatasan adalah Bagian-Mu
Ke soktahuan adalah diriku
Mahatahu itulah Kamu


Ajari aku untuk menerima sekalipun aku tidak memahami
Ambil apa yang tidak baik bagiku sekalipun aku menaruh cinta
Tuntun aku pada dia yang Kau sediakan
Terimalah penyerahan tanda Kau Sang Penggenggam

Sunyi namun terasakan
Kaulah yang tak pernah ingkar
Kebaikan semata-mata niat-Mu bagiku
Kumelangkah menggenggam percaya

Kamis, 18 Maret 2010

BELAJAR MEMIJAK KETULUSAN




Ketulusan merangkai murninya cinta...
Aku takkan melakukannya untuk memikat
Aku kan memilih berdiam meski kau tak tersentuh
Aku kan tetap tersenyum dalam deraan luka

Ketulusan menentang ego...
Menangisi keangkuhan diri
Mengesampingkan pamrih
Mengagumi dalam kejujuran

(Ajari aku tulus bagai merpati....)

Kamis, 11 Maret 2010

Bagaikan Kacang Lupa Kulitnya

Pepatah bagaikan kacang lupa kulitnya menggambarkan seseorang yang lupa akan asal-usulnya. Terutama ini biasanya digunakan bagi seseorang yang berasal dari kampung atau desa dan pergi ke kota menjadi kaya atau memiliki jabatan tinggi dan lupa daratan. Namun tampaknya pepatah ini juga dapat disandingkan pada seseorang yang melupakan jasa baik orang lain.

Tindakan mengingat ataupun melupakan jasa baik orang lain agar berimplikasi sehat sedianya diterapkan sebagai sebuah bahan bagi instropeksi diri. Bahan instropeksi diri dalam arti sejauhmana kita mengingat dan “membalas” kontribusi orang-orang yang secara signifikan menyumbang pada kehidupan kita. Berterima kasih pada mereka tentunya merupakan tindakan yang sepatutnya kita lakukan.

Permasalahan yang rentan mengemuka tatkala tindakan ini kita harapkan diterapkan oleh orang yang kita telah bantu. Bisa jadi pribadi yang kita bantu melupakan peran kita. Jelas saja jika hal ini justru berbuah kekecewaan. Disinilah timbul kesadaran akan pentingnya kita melakukan sesuatu mengalir dari motif yang tulus. Selain itu memang sudah jadi natur manusia jika manusia cenderung mengingat orang yang menyakiti hatinya dibanding dengan orang yang membantunya. Apalagi jika keadaan ataupun status meningkat.

Waktu akan terus berjalan, yang pasti tidak ada gunanya kemarahan akibat mengharapkan pengakuan akan kontribusi kita terhadap seseorang. Malahan situasi ini bisa jadi lahan produktif untuk merekonstruksi motif kita dalam melakukan sesuatu. Hendaklah situasi ini tidak membuat kita menjadi trauma di dalam menebarkan kebaikan. Bunda Teresa pernah berkata “saya lebih suka membuat kesalahan sebagai seorang yang amat baik daripada melakukan keajaiban tanpa sedikit kebaikan.” Kebaikan yang kita lakukan tetaplah sebuah kebaikan sekalipun tanpa pengakuan.

Momen-momen melakukan kebaikan yang dilupakan berpotensi membangkitkan kedewasaan di dalam diri. Tentu saja hal ini terjadi apabila kita menerima hal tersebut sebagai sebuah latihan bagi otot-otot mental kita. Menyikapi dengan penuh kearifan adalah keniscayaan yang membuat kita tetap tersenyum meskipun kita menjadi kulit yang dilupakan si kacang.

Minggu, 21 Februari 2010

BERANI BERMIMPI

Seorang anak yang lahir dan dibesarkan di desa yang terpencil diberitahu oleh gurunya bahwa di balik rimbun hijau desanya ada kemegahan gedung-gedung pencakar langit. Di antara suara jangkrik dan terang bulan purnama di desanya (karena memang listrik belum masuk ke sana), di balik gunung yang selalu ditatapnya setiap hari ada kehidupan yang berbeda di sana. Di antara lilitan kemiskinan dan keterbatasan akses pendidikan di luar sana ada jalan menjanjikan. Sang gurupun menyapa jiwanya menaburkan benih percaya diri bahwa jika ia berkehendak kuat ia akan mampu sampai di sana. Sang guru menggelorakan hatinya untuk berani bermimpi.

Sadar atau tidak sadar banyak orang yang bahkan takut untuk bermimpi. Mimpi menjadi momok yang justru menakutkan tatkala memandang keberadaan dan situasi diri. Namun perlu disadari bahwa mimpi adalah pelita di tengah kabut masa depan. Impianlah yang menyemangati kita untuk terus berjalan sekalipun kabut demikian pekatnya.

Jika mimpi tidak dibangun atas situasi eksternal kita maka di atas dasar apakah mimpi selayaknya di bangun? Nampaknya bukan juga di atas kemampuan internal kita. Mimpi semestinya dibangun atas dasar keagungan pencipta kita. Sebab Dialah yang menjaga pelita itu tetap menyala di antara balutan kabut dan hembusan angin intimidasi diri.

Ada yang tidak berani bermimpi sama sekali, ada yang bermimpi hal yang biasa-biasa saja, ada yang bermimpi besar sebab keyakinan diri yang tinggi. Sebaiknya jikalau kita bermimpi besar, bermimpilah sebab kebesaran-Nya adalah sandaran kebesaran mimpi kita.

Hari ini si Anak dari desa terpencil itu berani bermimpi. Karena di samping wawasan baru yang diberikan gurunya Sang Ibu tak lelah-lelahnya menanamkan dalam dirinya: “Nak, bercita-citalah setinggi langit dan jangan lupa sandarkan cita-citamu kepada Dia yang bermukim di sana!” “Tapi Bu aku kan hanyalah seorang anak desa!!!” Jawabnya kala itu. “Kamu harus menjadi anak desa yang punya mimpi dan mengandalkan Tuhan serta mempercayai kesanggupan-Nya!” Itulah yang kemudian membuat si anak desa berani bermimpi karena ia mengarahkan matanya pada Tuhan yang sanggup merealisasikan mimpinya menjadi kenyataan. Beranilah bermimpi!!!!

Sabtu, 06 Februari 2010

Menjadi Anak dan Menjadi Orang Tua




Kita tak pernah memilih siapa yang menjadi orang tua kita.Singkatnya Tuhanlah yang memilihkannya bagi kita.Ada berbagai respon terhadap pilihan Tuhan ini.Mengingat sebaik apapun, mereka manusia yang alamiah dalam ketidaksempurnaan.Sejahat apapun, mereka manusia yang di dalam diri kita mengalir darah mereka.

Satu hasrat dalam diri orang tua menjelang menghampiri keabadian adalah sebait kata dari mulut Sang Anak “papa/mama adalah seorang papa/mama yang terbaik di dunia!”
Ucapkanlah selagi masih memiliki kesempatan...


Kita tidak pernah memilih siapa yang menjadi anak kita.
Tuhanlah yang memilihkannya bagi kita.
Seperti apapun, terkandung potensi yang besar dalam diri mereka.
Semenyusahkan apapun, mereka manusia yang di dalam dirinya mengalir darah kita.

Karena itu jika Tuhan mengaruniakan Anda seorang anak taburkanlah kasih, tanamkanlah citra diri positif dan berikanlah waktu yang berkualitas serta hidupilah keteladanan.
Sehingga kelak ucapan “papa/mama adalah seorang papa/mama yang terbaik di dunia!” boleh menghampirimu.

Jika Anda tidak memiliki kesempatan mengecap kasih sayang orang tua atau bahkan mengalami kepahitan terhadap orang tua, maka saatnyalah memutuskan bahwa ”hal yang sama tidak akan aku izinkan dialami oleh anak-anakku.”

Satu hasrat dalam diri seorang anak adalah orang tua yang menyatakan “Aku bangga padamu Nak!”
Kondisikanlah selagi masih ada waktu...

Senin, 04 Januari 2010

The Roles of Mentoring as a Key Feature in Raising the Future Generation of Leaders


Introduction


Mentoring expert Tim Elmore concluded that the definition of mentoring by Robert Clinton and Paul Stanley “is a relational experience through which one person empowers another by sharing the resources given by God”[1] Recently mentoring becomes a word that increasingly popular. Naturally, this raises the question Why is mentoring became a popular thing? It is very interesting to explore answers to this question. Therefore, through this paper we will together look at the factors that make mentoring an important process and the role of mentoring in the regeneration process of leadership.



The factors that make Mentoring Important


Entering the twentieth century, many experts of leadership that states that the interest of this generation to become leaders drastically reduced. One indicator is when they were asked what their aspiration is, rarely the answer to be president, commander, and a variety of leadership positions. This is quite different from generations under 60s. Therefore, we need a good strategy to produce future leaders. The best strategy for that is mentoring. We also need to consider what factors make mentoring important to produce future leaders?

First is the changing era. The world has changed significantly. Steven Covey[2] divided it in five different human civilization eras: first, hunting and gathering food, second, the time of agriculture; third, industrial era; fourth, knowledge and information workers and the last one is wisdom. According to Covey currently we are in the era of knowledge and information workers. It is very important for a man to get the fulfilment of body, mind, heart and soul. The implication of leadership is that everyone needs a fully guidance. A relationship based guidance that is built on trust, and in order to be effective, it needs to involve body, mind, and soul. Such relationship can only be found on mentoring. (see Clinton and Stanley’s definition of mentoring in the introduction.


Second is changing roles of leadership. Changing era is not just move in itself, but it also runs parallel with the cultural change in leadership. We will look more in-depth about it from the observation of a leadership expert Jimmy Long. Jimmy Long[3] said that leadership role has changed now from tasks to community, from goal-driven leadership to relationship-driven leadership, from great Commission to great commandment, from directing to Empowering, from destination to journey, from aspiring to inspiring. Analysis of Long this is debatable. But we are increasingly aware that the community becomes something so exalted at this moment. In the middle of Millennial Generation[4], those born in the last generation of Twentieth Century (1982-2000) who are suckled a cyber-community that has grown up on the internet. They’ve had virtually everything handed to them, so they value little. The changing role of leadership emphasized that the focus of leadership is a human being. Parallel to these, mentoring in addition to enriching the understanding of the mentee is also conditioned to be ready with the mentee relationships with mentor in the middle of the dynamics nature of relationship.



The Roles of Mentoring


A mentoring expert Tim Elmore stated that “the most certain way to make an impact to others is by getting into a relationship that can be justified with a clear objective to produce a measurable growth.” [5] This relationship according to Elmore is found in the mentoring process. Therefore, after analyzing the factors of the importance of mentoring, we need to examine the roles of mentoring in shaping the new generation of leadership.


First, mentoring enables existing leaders to focus on the process of forming the new leadership. Lord Jesus himself took this step. He chose twelve disciples in the discipleship He did. These twelve disciples were not only learning about the teachings that God taught, but they lived with Him and saw His life and the example-ship of His life. If we look at the gospels we will see that in the process of discipleship Jesus focused on the twelve disciples.


Second, mentoring allows optimum gain of the evaluation so that growth can be measured. In order to form leaders in the new generation, of course we need a mechanism that allows existing leaders to measure the growth rate of future leaders. This mechanism is obtained in the process of mentoring. Because a healthy mentoring program must have a purpose. Based on the goals set together, a mentor must prepare a mechanism to measure and then examine whether the things that must continue to sharpen the mentee. Such mechanism is called evaluation process.


Third, mentoring provides a sense of security and room to improvement. In the mentoring process there will be sharing moments that may be personal. Mentoring also allows the mentee to openly inform and showed weaknesses. Of course when this happens mentee must be in a firm trust to the mentor. Therefore, trust is something that is absolutely needed in the process of mentoring.



Fourth, mentoring allows the multiplication of motivation. Elmore said that, “the stronger a relationship, the greater the empowerment.”[6] Through a strong trust based relationship, mentoring directly or indirectly increase the motivation for the mentee to be better and also try harder to achieve the goals set with the mentor in the mentoring process. Mentoring does not just motivate the inner-self of the mentee but also motivates the outer-self of the mentee. Mentee would not want to disappoint his mentor who has given time, thought and energy to the mentoring process.


Conclusion


In conclusion, based on the observations and the current ideas of leadership experts, it appears that mentoring activities are a very good activity to be adopted in developing and raising new leaders, specifically spiritual leaders. Hopefully this
awareness will grow in the heart of existing leaders.


[1] Tim Elmore, Mentoring: Bagaimana Menginvestasikan Hidup Anda dalam Kehidupan Orang Lain, translator Anto Wibowo (Jakarta: Metanoia Publishing, 2007), 2.

[2] Stephen R. Covey, The 8th Habbit: Melampaui Efektifitas, Menggapai Keagungan (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008), 21.

[3] Jimmy Long, The Leadership Jump: Building Partnership Between Existing and Emerging Christian Leaders, (Illinois: InterVarsity Press, 2009), 103-185.

[4] Wesley Black, “Generational Perspectives: Ministering to Builders, Bommers, Busters, and Bridgers.” On Introducing Christian Education: Foundations for the Twenty-First Century. Ed. Michael J. Anthony (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2008), 242.

[5] Elmore, 20.

[6] Ibid., 90.