Pepatah bagaikan kacang lupa kulitnya menggambarkan seseorang yang lupa akan asal-usulnya. Terutama ini biasanya digunakan bagi seseorang yang berasal dari kampung atau desa dan pergi ke kota menjadi kaya atau memiliki jabatan tinggi dan lupa daratan. Namun tampaknya pepatah ini juga dapat disandingkan pada seseorang yang melupakan jasa baik orang lain.Tindakan mengingat ataupun melupakan jasa baik orang lain agar berimplikasi sehat sedianya diterapkan sebagai sebuah bahan bagi instropeksi diri. Bahan instropeksi diri dalam arti sejauhmana kita mengingat dan “membalas” kontribusi orang-orang yang secara signifikan menyumbang pada kehidupan kita. Berterima kasih pada mereka tentunya merupakan tindakan yang sepatutnya kita lakukan.
Permasalahan yang rentan mengemuka tatkala tindakan ini kita harapkan diterapkan oleh orang yang kita telah bantu. Bisa jadi pribadi yang kita bantu melupakan peran kita. Jelas saja jika hal ini justru berbuah kekecewaan. Disinilah timbul kesadaran akan pentingnya kita melakukan sesuatu mengalir dari motif yang tulus. Selain itu memang sudah jadi natur manusia jika manusia cenderung mengingat orang yang menyakiti hatinya dibanding dengan orang yang membantunya. Apalagi jika keadaan ataupun status meningkat.
Waktu akan terus berjalan, yang pasti tidak ada gunanya kemarahan akibat mengharapkan pengakuan akan kontribusi kita terhadap seseorang. Malahan situasi ini bisa jadi lahan produktif untuk merekonstruksi motif kita dalam melakukan sesuatu. Hendaklah situasi ini tidak membuat kita menjadi trauma di dalam menebarkan kebaikan. Bunda Teresa pernah berkata “saya lebih suka membuat kesalahan sebagai seorang yang amat baik daripada melakukan keajaiban tanpa sedikit kebaikan.” Kebaikan yang kita lakukan tetaplah sebuah kebaikan sekalipun tanpa pengakuan.
Momen-momen melakukan kebaikan yang dilupakan berpotensi membangkitkan kedewasaan di dalam diri. Tentu saja hal ini terjadi apabila kita menerima hal tersebut sebagai sebuah latihan bagi otot-otot mental kita. Menyikapi dengan penuh kearifan adalah keniscayaan yang membuat kita tetap tersenyum meskipun kita menjadi kulit yang dilupakan si kacang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar