Valentine…
segera tiba. Arthur memikirkan dengan
sangat hadiah apa yang akan ia berikan bagi Melinda pada valentine pertama
mereka sebagai sepasang suami isteri.
“Coklat, ya coklat” benda itu yang ada di benak Arthur sekalipun ia
sendiri tidak menyukai coklat namun dalam benaknya ia berpikir “siapa wanita
yang tidak menyukai coklat.”
Hari yang dinanti-nantipun tiba… Valentine yang
sederhana. Makan malam di rumah kemudian
dengan nyala lilin ditengah temaram ruangan ia pun memberikan sebatang coklat
kasih sayang pada istrinya. Melinda
mengucapkan terima kasih lalu mencium kening Arthur. Sesungguhnya Melindapun tidak suka coklat,
namun ia tidak tega mengungkapkannya tatkala melihat senyum yang mengembang di
wajah Arthur tatkala memberikan coklat valentine. Terlebih lagi senyum tersebut semakin
mengembang ketika Melinda mengunyah coklat tersebut sambil mencoba tersenyum. Valentine yang sempurna.
Sebatang coklat kemudian menjadi pemberian wajib Arthur
setiap kali Valentine menjelang. Selalu
dengan respon yang sama dari Melinda senyum yang membahasakan rasa
bahagia. Sampai mereka tua hal ini terus
berulang. Valentine- coklat-
senyum mengembang –menikmati coklat dan dilanjutkan dengan kecupan. Sampai suatu hari Melinda meninggalkan Arthur
menghadap Sang Pemilik raga. Hari itu 14
Februari sehari setelah upacara penguburan Melinda, Arthur menemukan sepucuk surat terselip dalam
buku harian sang belahan jiwa...
"Suamiku... ketika kamu membaca surat ini aku sudah tidak
lagi bersamamu... Tahukah kamu bahwa kamu sangat berarti dalam hidupku.
Tetaplah tegar jalani hidup ini sayang. Jalanilah hidupmu semanis coklat
valentine yang selalu kau berikan. Tapi tahukah kamu sayang sesungguhnya aku
tidak menyukai coklat... Namun ketika aku memaksa diriku untuk memakannya sebagai
tanda menghargai pemberianmu, senyummu tatkala aku memakannya memberikan
sensasi yang berbeda pada lidahku... untuk beberapa waktu aku tetap tidak
menyukai coklat kecuali coklat pemberianmu. Karena senyum bahagiamu akan selalu
hadir ketika aku melahapnya. Namun tiba saatnya entah pada Valentine keberapa
yang kita jalani, aku menjadi sangat menyukai coklat. Entahlah?! Nampaknya
kekuatan cinta merubah persepsi dan rasaku terhadap coklat... Kamu pasti tidak
suka jalani kesendirian. Jika kau merindukanku tataplah coklat yang selalu kau
berikan padaku... Biarlah ingatan akan cinta akan menguatkanmu jalani
kesendirian tanpaku. Percayalah bahwa
apa yang tidak kita sukai dapat kita nikmati tatkala kita mengenang kehadiran
orang yang kita cintai. I love you honey... That's what makes me like chocolate...
Note:
Kisah ini adalah sebuah kolaborasi bersama Jessica Layantara...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar