
Indonesia kembali berduka tatkala pada hari Jumat pagi tanggal 17 Juli 2009 terjadi peledakan bom di dua lokasi yakni Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton yang menewaskan sedikitnya 9 orang dengan 53 orang luka-luka. Peledakan ini di- duga merupakan bom bunuh diri. Dalam acara Dahsyat di RCTI salah satu presenter acara ini Luna Maya berkata “hey Mr.Terrorist we shame on you”. Seketika itu juga dalam jejaring pertemanan Facebook banyak kecaman yang di alamatkan pada para penebar teror dalam status para FBers.
Sebuah pertanyaan menyeruak dalam pikiran saya,apakah yang mereka cari?
Mari kita coba melihat dari sudut pandang mereka. Ketika para bomber terdakwa bom Bali 1 akan dieksekusi dalam sebuah stasiun televisi nasional di gambarkan Imam Samudra salah satu bomber meluapkan kemarahan dan kebenciannya kepada Amerika dan sekutunya dan tampak sekali bahwa ia tidak menyesal menjadi bagian dari komplotan penebar maut yang merenggut nyawa 202 jiwa. Ia menganggap dirinya martir dan bersyukur jika cepat dieksekusi karena dalam pandangannya itu akan membawa dirinya segera bertemu sang khalik yang merupakan alasannya untuk meledakkan Diskotek Sari Club’s dan Diskotek Paddy’s di lingkungan lokasi wisata Kuta Bali.
Tentu saja sulit bagi kita untuk mengasihani para teroris jika melihat jiwa-jiwa yang tidak bersalah yang menjadi korban mereka serta dampak lain seperti lesunya pariwisata pasca Bom Bali 1 dan 2 dan tidak jadinya tim Manchester United berlaga di Indonesia. Namun jika kita melihat dari sisi nurani maka kita akan menjiwai bahwa mereka adalah orang-orang yang dikuasai oleh kebencian dan persepsi yang keliru dalam hal ketuhanan. Mereka adalah orang-orang yang terhilang dalam miskonsepsi.
Augustinus mengatakan dalam The confessions , “Ya Tuhan, Engkau telah menciptakan kami bagi diri-Mu sendiri dan hati kami senantiasa gelisah sampai kami menemukan perhentian di dalam Engkau!” Mereka adalah orang-orang yang dikuasai oleh kegelisahan yang membabi buta. Saya membayangkan dalam kekekalan mereka menjadi kecewa karena bukan surga-Nya nan baka yang menghampiri mereka namun neraka yang kekal. Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha pengasih dan penyayang mengizinkan tindakan brutal penuh kebencian. Karena itu sepatutnya mereka ada dijajaran paling atas dari orang-orang yang kita kasihani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar