Penemuan yang Melegakan
dalam sebuah malam
dalam sebuah perasaan
dalam sebuah penantian
kita ada diujung sebuah keinginan
keinginan untuk berubah
keinginan untuk menjadi lebih baik
dalam sebuah kesadaran
dalam sebuah jiwa
dalam segenggam pengharapan
kita ada di awal sebuah pemahaman
pergumulan dalam diri
pergumulan dengan sejarah kehidupan
dalam secercah asa
dalam sebuah mimpi
dalam sebuh cita
kita akan meraihnya
bertumbuh dalam kesesakan
bertumbuh dalam pencarian
pada sebuah ujung
pada sesosok figur
Dia yang memampukan
Sabtu, 28 November 2009
Minggu, 02 Agustus 2009
Budi, Teruslah Bermain Bola!

"Budi, Teruslah Bermain Bola!"
Seminggu pasca pemboman Hotel J.W. Marriot dan Ritz Carlton, kalimat di atas muncul di baliho-baliho pinggir jalan bahkan diiklankan dalam koran kompas bertanggal 25 Juli 2009 oleh 3 (three) sebagai sponsor kedatangan MU ke Indonesia. dengan latar belakang back ground warna hitam saya menangkap pesan yang sangat mendalam bahwa para teroris bisa menghancurkan hotel J.W. Marriot dan Ritz Carlton dengan bom mereka namun mereka tidak bisa mematikan semangat kita untuk maju sejauh kita tidak memutuskan untuk berhenti bermain bola (baca: menyerah pada teror).
Dua hari setelah peristiwa pemboman Saykoji yang sedang ngetrend dengan single online nya tampil tidak seperti biasanya, Memory eksternal yang dikalungkan di lehernya ditempelkan bendera Indonesia padahal biasanya sticker dari memory eksternal tersebut bertuliskan KASKUS. Live di RCTI Saykoji menggubah ulang single lawasnya “so what gitu loh” dengan lirik yang di alamatkan kepada para penebar Teror “Lo ngebom gue so what gitu loh”.
Pada hari yang sama minggu malam 19 Juli 2009 di Metro TV seorang anak muda mengimbau para pengguna jejaring sosial di dunia maya twitter dan facebook untuk bergabung menjadi fans dari Indonesia Unite “We will not go down” dan memberitahukan pada dunia bahwa Indonesia aman. Seketika juga saya bergabung dengan group tersebut menggelorakan solidaritas mendukung semangat anti kekerasan dan pantang menyerah.
Solidaritas mengalir dari penjuru negeri menghapus air mata ibu pertiwi. Solidaritas membahana di seantero Indonesia untuk para korban serta keluarga korban mengutuk dengan keras perilaku yang tidak berprikemanusiaan dan tidak beradab.
Pagi hari di jumat yang naas tanggal 18 Juli 2009 tak lama setelah menyalakan Televisi saya seketika mematikannya kemudian berdoa dalam mata yang terbuka untuk Indonesia, korban dan otak di balik aksi teror bom dalam keyakinan bahwa di balik suatu tragedi terdapat maksud Tuhan yang bermuara pada kebaikan. Barangkali beberapa makna tersebut telah disuarakan oleh 3, Saykoji dan Indonesia Unite karenanya saya ucapkan Terima kasih 3, terima kasih Saykoji, terima kasih Indonesia Unite dan semua anak bangsa yang mendendangkan pengharapan di tengah teror sehingga si Budi terus bermain sepakbola. “Ayo Budi kita main bola lagi!!!”
"You cannot always control circumstances, but you can control your own thoughts!"
Seminggu pasca pemboman Hotel J.W. Marriot dan Ritz Carlton, kalimat di atas muncul di baliho-baliho pinggir jalan bahkan diiklankan dalam koran kompas bertanggal 25 Juli 2009 oleh 3 (three) sebagai sponsor kedatangan MU ke Indonesia. dengan latar belakang back ground warna hitam saya menangkap pesan yang sangat mendalam bahwa para teroris bisa menghancurkan hotel J.W. Marriot dan Ritz Carlton dengan bom mereka namun mereka tidak bisa mematikan semangat kita untuk maju sejauh kita tidak memutuskan untuk berhenti bermain bola (baca: menyerah pada teror).
Dua hari setelah peristiwa pemboman Saykoji yang sedang ngetrend dengan single online nya tampil tidak seperti biasanya, Memory eksternal yang dikalungkan di lehernya ditempelkan bendera Indonesia padahal biasanya sticker dari memory eksternal tersebut bertuliskan KASKUS. Live di RCTI Saykoji menggubah ulang single lawasnya “so what gitu loh” dengan lirik yang di alamatkan kepada para penebar Teror “Lo ngebom gue so what gitu loh”.
Pada hari yang sama minggu malam 19 Juli 2009 di Metro TV seorang anak muda mengimbau para pengguna jejaring sosial di dunia maya twitter dan facebook untuk bergabung menjadi fans dari Indonesia Unite “We will not go down” dan memberitahukan pada dunia bahwa Indonesia aman. Seketika juga saya bergabung dengan group tersebut menggelorakan solidaritas mendukung semangat anti kekerasan dan pantang menyerah.
Solidaritas mengalir dari penjuru negeri menghapus air mata ibu pertiwi. Solidaritas membahana di seantero Indonesia untuk para korban serta keluarga korban mengutuk dengan keras perilaku yang tidak berprikemanusiaan dan tidak beradab.
Pagi hari di jumat yang naas tanggal 18 Juli 2009 tak lama setelah menyalakan Televisi saya seketika mematikannya kemudian berdoa dalam mata yang terbuka untuk Indonesia, korban dan otak di balik aksi teror bom dalam keyakinan bahwa di balik suatu tragedi terdapat maksud Tuhan yang bermuara pada kebaikan. Barangkali beberapa makna tersebut telah disuarakan oleh 3, Saykoji dan Indonesia Unite karenanya saya ucapkan Terima kasih 3, terima kasih Saykoji, terima kasih Indonesia Unite dan semua anak bangsa yang mendendangkan pengharapan di tengah teror sehingga si Budi terus bermain sepakbola. “Ayo Budi kita main bola lagi!!!”
"You cannot always control circumstances, but you can control your own thoughts!"
-Charles Popplestown-
Selasa, 21 Juli 2009
MENGASIHANI PARA TERORIS

Indonesia kembali berduka tatkala pada hari Jumat pagi tanggal 17 Juli 2009 terjadi peledakan bom di dua lokasi yakni Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton yang menewaskan sedikitnya 9 orang dengan 53 orang luka-luka. Peledakan ini di- duga merupakan bom bunuh diri. Dalam acara Dahsyat di RCTI salah satu presenter acara ini Luna Maya berkata “hey Mr.Terrorist we shame on you”. Seketika itu juga dalam jejaring pertemanan Facebook banyak kecaman yang di alamatkan pada para penebar teror dalam status para FBers.
Sebuah pertanyaan menyeruak dalam pikiran saya,apakah yang mereka cari?
Mari kita coba melihat dari sudut pandang mereka. Ketika para bomber terdakwa bom Bali 1 akan dieksekusi dalam sebuah stasiun televisi nasional di gambarkan Imam Samudra salah satu bomber meluapkan kemarahan dan kebenciannya kepada Amerika dan sekutunya dan tampak sekali bahwa ia tidak menyesal menjadi bagian dari komplotan penebar maut yang merenggut nyawa 202 jiwa. Ia menganggap dirinya martir dan bersyukur jika cepat dieksekusi karena dalam pandangannya itu akan membawa dirinya segera bertemu sang khalik yang merupakan alasannya untuk meledakkan Diskotek Sari Club’s dan Diskotek Paddy’s di lingkungan lokasi wisata Kuta Bali.
Tentu saja sulit bagi kita untuk mengasihani para teroris jika melihat jiwa-jiwa yang tidak bersalah yang menjadi korban mereka serta dampak lain seperti lesunya pariwisata pasca Bom Bali 1 dan 2 dan tidak jadinya tim Manchester United berlaga di Indonesia. Namun jika kita melihat dari sisi nurani maka kita akan menjiwai bahwa mereka adalah orang-orang yang dikuasai oleh kebencian dan persepsi yang keliru dalam hal ketuhanan. Mereka adalah orang-orang yang terhilang dalam miskonsepsi.
Augustinus mengatakan dalam The confessions , “Ya Tuhan, Engkau telah menciptakan kami bagi diri-Mu sendiri dan hati kami senantiasa gelisah sampai kami menemukan perhentian di dalam Engkau!” Mereka adalah orang-orang yang dikuasai oleh kegelisahan yang membabi buta. Saya membayangkan dalam kekekalan mereka menjadi kecewa karena bukan surga-Nya nan baka yang menghampiri mereka namun neraka yang kekal. Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha pengasih dan penyayang mengizinkan tindakan brutal penuh kebencian. Karena itu sepatutnya mereka ada dijajaran paling atas dari orang-orang yang kita kasihani.
Rabu, 15 Juli 2009
BERDOA KEPADA ALLAH YANG HIDUP
“Tidak ada telinga yang mendengar, dan tidak ada mata yang melihat seorang allah yang bertindak bagi orang yang menanti-nantikan dia; hanya Engkau yang berbuat demikian!”-Yes.64:4-
Setiap agama menganjurkan umatnya untuk berdoa kepada apa yang mereka anggap sebagai allah. Karena jauh di dalam dirinya, manusia menyadari adanya sebuah kuasa yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Jika setiap agama berdoa, apa yang membedakan esensi doa dari agama-agama yang ada? Mengenai hal ini Nabi Yesaya menyatakan bahwa kepada siapa kita berdoa menentukan jawaban doa yang kita peroleh. Sebenarnya dalam bagian ini Nabi Yesaya sedang memproklamirkan Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang menjawab doa.
Mengapa ilah-ilah lain tidak mendengar, tidak melihat dan tidak bertindak menjawab doa dari orang-orang yang berseru kepada mereka sedangkan Tuhan yang kita sembah mendengar menjawab dan bertindak? Jawabannya adalah karena Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup. Tuhan Yesus menjawab orang saduki yang tidak mempercayai kehidupan setelah kematian: “Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup!" (Mat.22:32). Di sisi lain kita orang-orang yang hidup dalam iman percaya kepada Tuhan Yesus Kristus berdoa kepada Allah yang hidup.
Sebagai orang percaya kebenaran ini seharusnya menjadi “bensin” bagi kita untuk menjadikan doa sebagai tindakan utama bagi kita di dalam menyikapi perjalanan hidup ini. So... apa yang menjadi masalah Anda??? lipat tangan, tutup mata, dan berserulah kepada-Nya sebab Ia mendengar, melihat dan bertindak !!!
Selasa, 14 Juli 2009
Selamat Datang
Hi teman-teman... Selamat datang di blog saya yang baru ini. Saya akan berusaha untuk memasukan dan meng-update sebanyak-banyaknya setiap minggu. Kiranya Tuhan memberkati kita semua.
blessings!
blessings!
Langganan:
Komentar (Atom)