Sabtu, 11 Februari 2012

Sebatang Coklat di Hari Valentine


Valentine… segera tiba.  Arthur memikirkan dengan sangat hadiah apa yang akan ia berikan bagi Melinda pada valentine pertama mereka sebagai sepasang suami isteri.  “Coklat, ya coklat” benda itu yang ada di benak Arthur sekalipun ia sendiri tidak menyukai coklat namun dalam benaknya ia berpikir “siapa wanita yang tidak menyukai coklat.” 

Hari yang dinanti-nantipun tiba… Valentine yang sederhana.  Makan malam di rumah kemudian dengan nyala lilin ditengah temaram ruangan ia pun memberikan sebatang coklat kasih sayang pada istrinya.  Melinda mengucapkan terima kasih lalu mencium kening Arthur.  Sesungguhnya Melindapun tidak suka coklat, namun ia tidak tega mengungkapkannya tatkala melihat senyum yang mengembang di wajah Arthur tatkala memberikan coklat valentine.  Terlebih lagi senyum tersebut semakin mengembang ketika Melinda mengunyah coklat tersebut sambil mencoba tersenyum.  Valentine yang sempurna.

Sebatang coklat kemudian menjadi pemberian wajib Arthur setiap kali Valentine menjelang.  Selalu dengan respon yang sama dari Melinda senyum yang membahasakan rasa bahagia.  Sampai mereka tua hal ini terus berulang.  Valentine- coklat- senyum mengembang –menikmati coklat dan dilanjutkan dengan kecupan.  Sampai suatu hari Melinda meninggalkan Arthur menghadap Sang Pemilik raga.  Hari itu 14 Februari sehari setelah upacara penguburan Melinda,  Arthur menemukan sepucuk surat terselip dalam buku harian sang belahan jiwa...

"Suamiku... ketika kamu membaca surat ini aku sudah tidak lagi bersamamu... Tahukah kamu bahwa kamu sangat berarti dalam hidupku. Tetaplah tegar jalani hidup ini sayang. Jalanilah hidupmu semanis coklat valentine yang selalu kau berikan. Tapi tahukah kamu sayang sesungguhnya aku tidak menyukai coklat... Namun ketika aku memaksa diriku untuk memakannya sebagai tanda menghargai pemberianmu, senyummu tatkala aku memakannya memberikan sensasi yang berbeda pada lidahku... untuk beberapa waktu aku tetap tidak menyukai coklat kecuali coklat pemberianmu. Karena senyum bahagiamu akan selalu hadir ketika aku melahapnya. Namun tiba saatnya entah pada Valentine keberapa yang kita jalani, aku menjadi sangat menyukai coklat. Entahlah?! Nampaknya kekuatan cinta merubah persepsi dan rasaku terhadap coklat... Kamu pasti tidak suka jalani kesendirian.  Jika kau merindukanku tataplah coklat yang selalu kau berikan padaku... Biarlah ingatan akan cinta akan menguatkanmu jalani kesendirian tanpaku.  Percayalah bahwa apa yang tidak kita sukai dapat kita nikmati tatkala kita mengenang kehadiran orang yang kita cintai. I love you honey... That's what makes me like chocolate...

Note:  
Kisah ini adalah sebuah kolaborasi bersama Jessica Layantara...