Selasa, 30 Maret 2010

Dialog Imajiner dengan Bapak: Seorang yang tak Pernah Kukenal



Orang bilang wajahku mirip dengan bapakku. Bahkan juga perawakanku. Aku tak pernah mengenal dia karena sewaktu aku masih berusia 4 tahun Tuhan memanggilnya ke haribaan-Nya. Pastilah ada yang hilang dari seorang anak yang bertumbuh tanpa seorang bapak. Aku tumbuh tanpa figur Bapak. It’s not an easy way to grow... but i must. Biasanya sebagai insan alamiah muncul imajinasi seandainya...
Seandainya beliau masih ada saat ini apakah yang akan berbeda dari hidup?
Malam ini aku termenung dan membayangkan percakapan yang mungkin terjadi antara aku dan bapak adalah bagaikan komunikasi dua arah dalam lagu “Father and Son”

Father : It's not time to make a change
Just relax, take it easy
You're still young, that's your fault
There's so much you have to know

Find a girl, settle down
If you want you can marry
Look at me, I am old, but I'm happy
I was once like you are now
and I know that it's not easy
To be calm when you've found something going on
But take your time, think a lot
Think of everything you've got
For you will still be here tomorrow
but your dreams may not

Son : How can I try to explain,
when I do he turns away again
It's always been the same, same old story
From the moment I could talk I was ordered to listen
Now there's a way and I know that I have to go away
I know I have to go
Father : I was once like you are now
and I know that it's not easy
To be calm when you've found something going on
But take your time, think a lot
Think of everything you've got
For you will still be here tomorrow,
but your dreams may not
Son : All the times that I cried
keeping all the things I knew inside
It's hard, but it's harder to ignore it
If they were right, I'd agree
but it's them THEY know not me
Now there's a way
and I know that I have to go away
I know I have to go
(father-- stay stay stay, why must you go andMake this decision alone? )





Mmmhhh... dialog yang begitu hidup.
Dimana dari sudut pandang sang Bapak... ”hidup adalah suatu proses nak, akupun pernah mengalami muda sepertimu!”
Si anak menyeru ”dengarkan aku dong Pak”

Menyenangkan pasti memiliki figur yang kita share dengannya...
Seseorang yang darinya lahirlah kita.
Seorang Bapak...

Pastilah segala sesuatu ada hikmah yang bisa dipetik.
Tentunya dengan iman bahwa Tuhan kan jadikan indah peristiwa pilu dalam sejarah kehidupanku sebagai sesuatu yang indah pada ujungnya.
Sebagaimana orang bijak pernah berkata ”everything is ok in the end. If it’s not ok, then it’s not the end.”

Bagaimanapun kehidupan harus dijalani…
Bertumbuh tanpa sosok bapak bukan berarti tidak bisa menjadi bapak yang baik.
Yang menakjubkan justru adalah gelora bahwa apa yang tidak pernah kunikmati dulu aku mempunyai kesempatan agar anak-anakku kelak dapat menikmatinya.

Senin, 29 Maret 2010

Pencarian Menemukan Orang yang Tepat: Satu namun Berjuta




Pengalaman menemukan cinta sejati tidaklah normatif. Setiap orang memiliki keunikan kisahnya sendiri karenanya meskipun diterpa kegagalan kebanyakan orang ketika gagal dalam percintaan tetap menggelorakan “Aku ingin jatuh cinta lagi”. Karena memang…

Mencintai itu menginspirasi
Mencintai itu milik orang-orang yang berani
Mencintai itu tidak netral (rasa)
Mencintai itu menyakitkan (bayangkan saja kalau kita menyarankan hal yang baik tapi diabaikan oleh orang yang kita cintai pasti sakit)
Sebab natur mencintai ingin memiliki (dalam konteks eros)
Ingin memiliki sering berarti ingin menguasai
Mencintai itu ajaib
“Aku ingin jatuh cinta lagi”
“sepertinya maknanya adalah aku ingin bertemu dengan orang yang tepat untuk dicintai”
“Aku ingin mencintai orang yang tepat”
Orang yang tepat itu misteri
Orang yang tepat itu mengindikasikan bahwa cinta adalah sebuah pencarian
Kadangkala orang yang tepat disignalkan oleh chemistry namun chemistry tidak selalu terjadi pada setiap orang.
Orang yang tepat ditelusuri menggunakan radar “rasa” dan radar “kualifikasi”(kualifikasi maksudnya sudah ada persyaratan mutlak tidak dapat diganggu gugat misalnya seiman, sama-sama hamba Tuhan, tidak merokok, satu suku dll).
Kadangkala orang yang tepat dibentuk oleh intensitas (tresno jalaran soko kulino).
Orang yang tepat mungkin saat ini ada di sekitarmu meski belum kau sadari(cinta itu paradoks, Iwan Fals pun bersenandung “kucari engkau lari kudiam kau hampiri).

Lebih jauh kadang kita menyadari betapa kita mencintai seseorang adalah pada waktu kita berpisah dan ditinggalkan.
Pada waktu bersama justru ia kelihatan tidak terlalu bernilai.
Bukankan seringkali sesuatu itu terasa nilainya ketika kita kehilangan hal tersebut.

Orang yang tepat mungkin muncul setelah engkau “selesai” dengan masa lalumu
Memori dan harapan masa lalu bisa jadi penghalang untuk melihat orang yang tepat sebagai orang yang tepat.
Bisa jadi orang yang tepat itu adalah dirimu dengan segenap ikhtiar untuk lebih mengerti.
Bukan lagi melagukan “are you strong enough to be my man”
Namun “am i strong enough to accept you to be my man”
(Zaman dulu tidak sedikit pasangan yang dijodohkan orang tua bisa merasa pasangannya itu orang yang tepat lo)
Sekuat tenaga untuk turun dari idealisme
disamping melagukan Munajat Cinta The Rock:
Tuhan kirimkanlah aku
Kekasih yang baik hati
Yang mencintai aku
Apa adanya

Lagukanlah juga…

Tuhan jadikanlah aku
Kekasih yang baik hati
yang sanggup mencintaimu
apa adanya
(The Soft- Menatap Cinta)

sebab orang yang tepat itu…

Kau berjuta namun satu
Mentari yang menapaki bumi
Menyeruak menghantam gelap
Mencengkram jiwa menyambung asa...
Jadikan dunia begitu bermakna
Alasan untuk tersenyum
Kau berjuta namun satu
Akhirnya... aku menemukanmu...

Selasa, 23 Maret 2010

BERSERAH MENGGENGGAM PERCAYA


Keterbatasan itu milikku
Ketidakterbatasan adalah Bagian-Mu
Ke soktahuan adalah diriku
Mahatahu itulah Kamu


Ajari aku untuk menerima sekalipun aku tidak memahami
Ambil apa yang tidak baik bagiku sekalipun aku menaruh cinta
Tuntun aku pada dia yang Kau sediakan
Terimalah penyerahan tanda Kau Sang Penggenggam

Sunyi namun terasakan
Kaulah yang tak pernah ingkar
Kebaikan semata-mata niat-Mu bagiku
Kumelangkah menggenggam percaya

Kamis, 18 Maret 2010

BELAJAR MEMIJAK KETULUSAN




Ketulusan merangkai murninya cinta...
Aku takkan melakukannya untuk memikat
Aku kan memilih berdiam meski kau tak tersentuh
Aku kan tetap tersenyum dalam deraan luka

Ketulusan menentang ego...
Menangisi keangkuhan diri
Mengesampingkan pamrih
Mengagumi dalam kejujuran

(Ajari aku tulus bagai merpati....)

Kamis, 11 Maret 2010

Bagaikan Kacang Lupa Kulitnya

Pepatah bagaikan kacang lupa kulitnya menggambarkan seseorang yang lupa akan asal-usulnya. Terutama ini biasanya digunakan bagi seseorang yang berasal dari kampung atau desa dan pergi ke kota menjadi kaya atau memiliki jabatan tinggi dan lupa daratan. Namun tampaknya pepatah ini juga dapat disandingkan pada seseorang yang melupakan jasa baik orang lain.

Tindakan mengingat ataupun melupakan jasa baik orang lain agar berimplikasi sehat sedianya diterapkan sebagai sebuah bahan bagi instropeksi diri. Bahan instropeksi diri dalam arti sejauhmana kita mengingat dan “membalas” kontribusi orang-orang yang secara signifikan menyumbang pada kehidupan kita. Berterima kasih pada mereka tentunya merupakan tindakan yang sepatutnya kita lakukan.

Permasalahan yang rentan mengemuka tatkala tindakan ini kita harapkan diterapkan oleh orang yang kita telah bantu. Bisa jadi pribadi yang kita bantu melupakan peran kita. Jelas saja jika hal ini justru berbuah kekecewaan. Disinilah timbul kesadaran akan pentingnya kita melakukan sesuatu mengalir dari motif yang tulus. Selain itu memang sudah jadi natur manusia jika manusia cenderung mengingat orang yang menyakiti hatinya dibanding dengan orang yang membantunya. Apalagi jika keadaan ataupun status meningkat.

Waktu akan terus berjalan, yang pasti tidak ada gunanya kemarahan akibat mengharapkan pengakuan akan kontribusi kita terhadap seseorang. Malahan situasi ini bisa jadi lahan produktif untuk merekonstruksi motif kita dalam melakukan sesuatu. Hendaklah situasi ini tidak membuat kita menjadi trauma di dalam menebarkan kebaikan. Bunda Teresa pernah berkata “saya lebih suka membuat kesalahan sebagai seorang yang amat baik daripada melakukan keajaiban tanpa sedikit kebaikan.” Kebaikan yang kita lakukan tetaplah sebuah kebaikan sekalipun tanpa pengakuan.

Momen-momen melakukan kebaikan yang dilupakan berpotensi membangkitkan kedewasaan di dalam diri. Tentu saja hal ini terjadi apabila kita menerima hal tersebut sebagai sebuah latihan bagi otot-otot mental kita. Menyikapi dengan penuh kearifan adalah keniscayaan yang membuat kita tetap tersenyum meskipun kita menjadi kulit yang dilupakan si kacang.