
Terkadang aku berpikir engkau tidak adil,
Sikapmu jauh dari menunjukkan “engkau mencintaiku”
Engkau hanya bekerja, bekerja dan bekerja tanpa keinginan untuk menyatakan cintamu ( dalam pandanganku ).
Engkau telalu tertutup dan sepertinya menutup diri terhadap permasalahan hidupku
Tapi diatas semua itu aku bimbang, mengapa diantara segala kekuranganmu itu
Dalam setiap tekanan yang menimpa jalanku aku merasa nyaman dan aman ada didekatmu.
Kini kau telah pergi menyusul Bapak dalam bebanmu untuk tetap bertahan mendidik dan menghidupi kami anak-anakmu.
Aku ingat perjuanganmu keras, berat, sukar tertanggung dipundakmu.
Tanpa keinginan untuk membaginya dengan kami.
Aku ingat cerita kakak, saat bebanmu kau komunikasikan dengan Sang Khalik
Dalam tangisan yang kau jaga kelembutan senandungnya agar tak mengusik nyenyak tidur kami.
Itulah caramu mencintaiku dengan teriakan, sapu, tulang yang terbanting, air mata yang tertumpah, doa. Primitif dan tak kumengerti.
Aku ingat saat aku memotong perkataanmu, mencela sikap dan pandanganmu
Melakukan hal-hal yang aku tahu tidak kan mendapat perkenananmu.
Kini malaikat- Nya telah menjemputmu, setelah pergumulan kita melawan sakit jasmanimu,
Engkau telah sembuh, total. Lepas dari derita otomatis barang dagangan dunia.
Satu hal yang mengusikku dan memancing air mataku ; “Aku belum berbuat sesuatu bagimu!”
Bagaimanapun caramu menyebarkan rasa cintamu.
Kau adalah anugerah Tuhan yang tak terlukiskan oleh kata-kata
Kau adalah seorang mama yang terbaik bagiku
Sikapmu jauh dari menunjukkan “engkau mencintaiku”
Engkau hanya bekerja, bekerja dan bekerja tanpa keinginan untuk menyatakan cintamu ( dalam pandanganku ).
Engkau telalu tertutup dan sepertinya menutup diri terhadap permasalahan hidupku
Tapi diatas semua itu aku bimbang, mengapa diantara segala kekuranganmu itu
Dalam setiap tekanan yang menimpa jalanku aku merasa nyaman dan aman ada didekatmu.
Kini kau telah pergi menyusul Bapak dalam bebanmu untuk tetap bertahan mendidik dan menghidupi kami anak-anakmu.
Aku ingat perjuanganmu keras, berat, sukar tertanggung dipundakmu.
Tanpa keinginan untuk membaginya dengan kami.
Aku ingat cerita kakak, saat bebanmu kau komunikasikan dengan Sang Khalik
Dalam tangisan yang kau jaga kelembutan senandungnya agar tak mengusik nyenyak tidur kami.
Itulah caramu mencintaiku dengan teriakan, sapu, tulang yang terbanting, air mata yang tertumpah, doa. Primitif dan tak kumengerti.
Aku ingat saat aku memotong perkataanmu, mencela sikap dan pandanganmu
Melakukan hal-hal yang aku tahu tidak kan mendapat perkenananmu.
Kini malaikat- Nya telah menjemputmu, setelah pergumulan kita melawan sakit jasmanimu,
Engkau telah sembuh, total. Lepas dari derita otomatis barang dagangan dunia.
Satu hal yang mengusikku dan memancing air mataku ; “Aku belum berbuat sesuatu bagimu!”
Bagaimanapun caramu menyebarkan rasa cintamu.
Kau adalah anugerah Tuhan yang tak terlukiskan oleh kata-kata
Kau adalah seorang mama yang terbaik bagiku