
Mengenang malam pertemuan kita...
Saat kau bertanya...
Di antara seribu jawab... kau memilih pernyataanku.
Aku berbalik menanya...
Jawabanmu adalah waktu
Di antara waktu yang deras bergulir kuselami lukamu
Kala itu kudapati kau tersenyum...
Kau bersenandung...
Kau berpuisi...
Kau mengulurkan tangan sambil berucap “mohon temani aku”
Kuresponi ajakanmu
Saat kau bimbang aku menyemangatimu
Bait-bait doaku menyapu arah melangkahmu
Kicaumu pada dunia betapa bangganya kamu disahabati kehadiranku
Dalam deru waktu
Kuulurkan tangan dan kau menampiknya
Aku mempertanyakanmu...
Namun nurani menahannya
Barangkali sudah menjadi garis tanganku jika kiprahku sebatas inginmu...
Jika memang kita takkan bertemu lagi...
Kenanglah aku sebagai tangan yang pernah menggengammu dalam laramu
Saat kau bertanya...
Di antara seribu jawab... kau memilih pernyataanku.
Aku berbalik menanya...
Jawabanmu adalah waktu
Di antara waktu yang deras bergulir kuselami lukamu
Kala itu kudapati kau tersenyum...
Kau bersenandung...
Kau berpuisi...
Kau mengulurkan tangan sambil berucap “mohon temani aku”
Kuresponi ajakanmu
Saat kau bimbang aku menyemangatimu
Bait-bait doaku menyapu arah melangkahmu
Kicaumu pada dunia betapa bangganya kamu disahabati kehadiranku
Dalam deru waktu
Kuulurkan tangan dan kau menampiknya
Aku mempertanyakanmu...
Namun nurani menahannya
Barangkali sudah menjadi garis tanganku jika kiprahku sebatas inginmu...
Jika memang kita takkan bertemu lagi...
Kenanglah aku sebagai tangan yang pernah menggengammu dalam laramu