Sebuah pepatah bijak menyatakan bahwa “tidak ada seorangpun yang sempurna sampai Anda jatuh cinta padanya.” Cinta merupakan rasa yang mampu membangkitkan rancangan-rancangan masa depan yang tampak begitu cerah tatkala memandangnya bersama pribadi yang kepadanya kita jatuh cinta. Namun cinta tidak selamanya bermuara kepada manisnya singgasana pengantin, malahan seringkali berakhir dengan tragis. Ketidakcocokan, kehilangan rasa bahkan orang ketiga kerapkali menjadi faktor yang menjadikan cinta pupus. Kemudian cintapun menghadirkan trauma.Saat-saat bertemu yang dahulu begitu indah untuk dikenang kemudian berubah menjadi sebuah mimpi buruk. Belum lagi torehan-torehan kenangan-kenangan yang mengiringi perjalanan cinta. Tempat-tempat bersejarahpun menggoreskan luka yang perih ketika melewati ataupun berada di sana. Parahnya mimpi buruk ini terasa tidak akan pernah bertepi. Entah sampai kapan?
Pribadi-pribadi yang terluka belum siap untuk kembali memasuki sebuah hubungan percintaan. Beberapa nekat melangkah pada saat masih terluka kemudian berakhir dengan melukai orang lain ketika ia sadar bahwa ia belum benar-benar siap beranjak. Beberapa lagi tidak tahu apakah ia sudah sembuh dari lukanya atau belum yang pasti ia tidak berani melangkah. Memang benar adanya bahwa ketika kita membuka hati untuk seseorang itu berarti kita menyiapkan diri untuk terluka. Namun bukankah tidak ada raihan tanpa rasa sakit?
Masalahnya barangkali adalah pikiran kita telah dicekoki dengan mantra “i’m everything i am because you loved me” dan “is the end of the world cause you don’t love me anymore”. Nyatanya kita pribadi yang tetap sama harkat dan martabatnya walaupun “dia” meninggalkan kita. Sesungguhnya duniapun jauh dari kiamat.
Cinta memang milik para pemberani. Mencintai memerlukan keberanian, membuka hati untuk dicintai memerlukan keberanian bahkan menyatakan cinta pun membutuhkan keberanian. Berapa banyak jiwa yang takut mencintai karena mereka mengalami penolakan? Berapa banyak yang gemetar mendengar kata cinta karena mereka pernah mengalami perihnya penghianatan cinta? Berapa banyak jiwa yang berikrar aku takkan pernah mencintai lagi? Berapa banyak penghuni rumah sakit jiwa bahkan pelaku bunuh diri yang tertekan dan tidak sanggup menahan luka karena cinta.
Cinta memang milik para pemberani. Orang-orang dengan mata rajawali yang menantang silaunya sinar mentari. Jiwa-jiwa yang memutuskan untuk terus mencari figur terkasih yang mengasihi dalam segala kekurangan dan kelebihan. Tangan-tangan yang terbuka, siap menggenggam dan melangkah dengan keyakinan di balik kabut kegagalan cinta di sana ada belahan jiwa dan biduk yang telah menunggu untuk segera berlayar dalam deru angin dan ombak yang menggulung.
Tidak peduli jika Anda pernah dikhianati, tertolak, diputus kekasih, gagal menikah atau apapun pahitnya cinta. Pertanyaan sesungguhnya adalah “Apakah Anda adalah Sang Pemberani???” Jika demikian cinta adalah milikmu!!!

