Minggu, 21 Februari 2010

BERANI BERMIMPI

Seorang anak yang lahir dan dibesarkan di desa yang terpencil diberitahu oleh gurunya bahwa di balik rimbun hijau desanya ada kemegahan gedung-gedung pencakar langit. Di antara suara jangkrik dan terang bulan purnama di desanya (karena memang listrik belum masuk ke sana), di balik gunung yang selalu ditatapnya setiap hari ada kehidupan yang berbeda di sana. Di antara lilitan kemiskinan dan keterbatasan akses pendidikan di luar sana ada jalan menjanjikan. Sang gurupun menyapa jiwanya menaburkan benih percaya diri bahwa jika ia berkehendak kuat ia akan mampu sampai di sana. Sang guru menggelorakan hatinya untuk berani bermimpi.

Sadar atau tidak sadar banyak orang yang bahkan takut untuk bermimpi. Mimpi menjadi momok yang justru menakutkan tatkala memandang keberadaan dan situasi diri. Namun perlu disadari bahwa mimpi adalah pelita di tengah kabut masa depan. Impianlah yang menyemangati kita untuk terus berjalan sekalipun kabut demikian pekatnya.

Jika mimpi tidak dibangun atas situasi eksternal kita maka di atas dasar apakah mimpi selayaknya di bangun? Nampaknya bukan juga di atas kemampuan internal kita. Mimpi semestinya dibangun atas dasar keagungan pencipta kita. Sebab Dialah yang menjaga pelita itu tetap menyala di antara balutan kabut dan hembusan angin intimidasi diri.

Ada yang tidak berani bermimpi sama sekali, ada yang bermimpi hal yang biasa-biasa saja, ada yang bermimpi besar sebab keyakinan diri yang tinggi. Sebaiknya jikalau kita bermimpi besar, bermimpilah sebab kebesaran-Nya adalah sandaran kebesaran mimpi kita.

Hari ini si Anak dari desa terpencil itu berani bermimpi. Karena di samping wawasan baru yang diberikan gurunya Sang Ibu tak lelah-lelahnya menanamkan dalam dirinya: “Nak, bercita-citalah setinggi langit dan jangan lupa sandarkan cita-citamu kepada Dia yang bermukim di sana!” “Tapi Bu aku kan hanyalah seorang anak desa!!!” Jawabnya kala itu. “Kamu harus menjadi anak desa yang punya mimpi dan mengandalkan Tuhan serta mempercayai kesanggupan-Nya!” Itulah yang kemudian membuat si anak desa berani bermimpi karena ia mengarahkan matanya pada Tuhan yang sanggup merealisasikan mimpinya menjadi kenyataan. Beranilah bermimpi!!!!

Sabtu, 06 Februari 2010

Menjadi Anak dan Menjadi Orang Tua




Kita tak pernah memilih siapa yang menjadi orang tua kita.Singkatnya Tuhanlah yang memilihkannya bagi kita.Ada berbagai respon terhadap pilihan Tuhan ini.Mengingat sebaik apapun, mereka manusia yang alamiah dalam ketidaksempurnaan.Sejahat apapun, mereka manusia yang di dalam diri kita mengalir darah mereka.

Satu hasrat dalam diri orang tua menjelang menghampiri keabadian adalah sebait kata dari mulut Sang Anak “papa/mama adalah seorang papa/mama yang terbaik di dunia!”
Ucapkanlah selagi masih memiliki kesempatan...


Kita tidak pernah memilih siapa yang menjadi anak kita.
Tuhanlah yang memilihkannya bagi kita.
Seperti apapun, terkandung potensi yang besar dalam diri mereka.
Semenyusahkan apapun, mereka manusia yang di dalam dirinya mengalir darah kita.

Karena itu jika Tuhan mengaruniakan Anda seorang anak taburkanlah kasih, tanamkanlah citra diri positif dan berikanlah waktu yang berkualitas serta hidupilah keteladanan.
Sehingga kelak ucapan “papa/mama adalah seorang papa/mama yang terbaik di dunia!” boleh menghampirimu.

Jika Anda tidak memiliki kesempatan mengecap kasih sayang orang tua atau bahkan mengalami kepahitan terhadap orang tua, maka saatnyalah memutuskan bahwa ”hal yang sama tidak akan aku izinkan dialami oleh anak-anakku.”

Satu hasrat dalam diri seorang anak adalah orang tua yang menyatakan “Aku bangga padamu Nak!”
Kondisikanlah selagi masih ada waktu...